Filosofi Hidup: Hidup dan Persaingan

Suaramuslim.net – Banyak kisah menarik dan berhikmah dapat diambil dari Al Quran dan hadits. Salah satunya kisah berikut.

Pada suatu hari, di Makkah, datang seorang buta, Abdullah bin Ummi Maktum kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ketika itu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menyeru orang-orang bangsawan negeri Makkah/Quraisy, supaya mereka masuk agama Islam. Harapan beliau adalah dengan masuknya para pembesar tersebut, maka tertariklah para pengikutnya.

Anak Umi Maktum berkata, “Ya Rasulullah, bacakanlah Al Quran padaku, ajarkanlah kepadaku apa yang diajarkan Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu.”

Berulang-ulang anak Umi Maktum mengatakan demikian, sedang ia tidak tahu Nabi sedang menyeru para bangsawan. Hal itu menjadikan Nabi merasa jengkel dan bermuka masam lalu berpaling dari padanya. Kejadian tersebut menjadikan turunnya surat  ‘Abasa (80), yang pada dasarnya merupakan teguran kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk tidak berpaling dari setiap orang yang membutuhkan.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling.” (QS Abasa: 1)

Baca Juga :  Menyiapkan Generasi Tangguh

Hikmah kisah tersebut adalah agar kita tidak terpedaya akan penampilan, kekayaan, dan status sosial seseorang. Seperti sering diungkapkan Tukul ‘Don’t judges the book by its cover,’ atau ‘underestimate’, kita mungkin sering mencibir seseorang karena penampilan dan status sosialnya. Dalam kehidupan sosial, kita sering tersilaukan dan tertipu oleh penampilan. Padahal sering kali yang tersembunyi, merupakan sesuatu yang sangat berharga.

Surat ke 49 Al Hujurat memberikan peringatan bagi kita untuk tidak merendahkan kaum yang lain karena boleh jadi yang dihinakan lebih baik daripada yang menghinakan. Dan di surat tersebut juga jelas dinyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memang menciptakan manusia dengan kondisi berbeda-beda, namun perbedaan tersebut bukanlah penentu keunggulan dan kemuliaan seseorang atau suatu kaum dalam pandangan Allah subhanahu wa ta’ala, melainkan ketakwaannya. Hal tersebut dapat kita simak dari ayat berikut,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kaum laki-laki menghinakan kaum laki-laki (yang lain), karena boleh jadi kaum yang dihinakan itu lebih baik dari kaum yang menghinakan, dan janganlah kaum perempuan menghinakan kaum perempuan (yang lain), karena boleh jadi perempuan yang dihinakan itu lebih baik dari perempuan yang menghinakan. Janganlah kamu cela-mencela sesama kamu dan jangan pula panggil memanggil dengan gelaran (yang tidak baik). Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim….Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar Kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS Al Hujuraat: 11 dan 13)

Baca Juga :  Zainab binti Jahsyi: Istri Nabi dan Tangan Terpanjang

Perbedaan adalah bukan untuk saling menjatuhkan dan menghinakan. Perbedaan adalah ditujukan agar manusia dapat saling mempelajari dan membantu. Apalagi untuk masalah perbedaan penampilan semata. Kita tidak akan dapat melihat kedalaman spiritual seseorang hanya dari penampilannya.

Semoga kita dijauhkan dari sifat merendahkan dan menghinakan orang lain. Aamiin.

Lanjutan Artikel  Don’t Judge a Book by Its Cover 2

Penulis: Dr. Gancar C. Premananto*

*Koordinator Program Studi Magister Manajemen FEB Universitas Airlangga Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.