Haji Atau Umrah Itu Harus Berbekal, Tidak Boleh Bonek!

Suaramuslim.net – Dalam Kitab Shahih Al Bukhari nomor hadis 1426 beliau meriwayatkan;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بِشْرٍ, قَالَ: حَدَّثَنَا شَبَابَةُ, عَنْ وَرْقَاءَ, عَنْ عَمْرِو بْنِ دِيْنَارٍ, عَنْ عِكْرِمَةَ, عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا, قَالَ: كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّوْنَ وَلَا يَتَزَوَّدُوْنَ, وَيَقُوْلُوْنَ: نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُوْنَ. فَإِذَا قَدِمُوْا مَكَّةَ, سَأَلُوْا النَّاسَ. فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى: (وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى)
قَالَ: رَوَاهُ ابْنُ عُيَيْنَةَ, عَنْ عَمْرٍو, عَنْ عِكْرِمَةَ, مُرْسَلًا.

Artinya: “….dari Abdullah bin Abbas, dia berkata: “Dahulukala orang-orang Yaman berhaji tidak membawa bekal (alias Bonek); mereka (orang-orang Yaman) berkata: “Kami (orang-orang Yaman) adalah orang-orang yang bertawakkal”. Apabila mereka (orang-orang Yaman) tiba di Kota Makkah, mereka (orang-orang Yaman) malah meminta-minta (mengemis) kepada orang-orang. Maka Allah menurunkan (Surat al-Baqarah ayat: 197): “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”.

So…Harus mempunyai sesuatu yang bisa mengantarkannya ke kota Makkah, tentunya disesuaikan dengan keadaannya. Misalnya dari kendaraan seperti mobil, kapal, dan pesawat, atau dari makanan, minuman serta tempat tinggal yang sesuai dengan keadaannya, sebagaimana hadist Anas radiyallahu ‘anhu beliau berkata:

قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ ؟ قَالَ: اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ

Artinya: “Ada seseorang yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? Beliau bersabda: “Bekal dan kendaraan” (HR. Daruquthni dan dishahihkan Hakim).

Baca Juga :  Sedekah Senyum

Apa Saja Bekal Itu?

Bekal orang yang pergi Umroh atau Haji itu dengan berbekal 3 M;

  1. Mental Keimanan dengan ITS (Ikhlas, Tawakkal, Sabar)

a. Ikhlaskan Jiwa Dalam Beribadah

Ikhlas itu amalan hati yang paling berat, namun ia penentu utama amalan itu diterima Allah. Begitu beratnya hingga ulama besar, Imam Sufyan Ats Tsauri berkata, ”Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.” (Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab jilid I halaman 17 & Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam jilid I halaman 70).

Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Ya, Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu”.

Apalagi dalam ibadah umrah atau haji, sudah pasti sangat berat berikhlas, itulah kenapa Allah dalam perintah umrah atau haji menambahi kalimat “lillah” (semata untuk Allah), yang tidak dijumpai pada perintah ibadah lainnya, meski semua ibadah harus “lillah”. Lihat surat Al-Baqarah ayat 197 dan Ali Imran ayat 97.

Yuk bersihkan dan bebaskan niat ibadah kita dari tujuan selain Allah, terus dan terus dipaksa.

Baca Juga :  Benarkah Sabar Itu Ada Batasnya?

b. Tawakkalkan Perasaan Dan Pikiran

Kita bertawakkal kepada Allah dalam perasaan dan pikiran dengan cara yakin dijamin keamanannya (lihat Surah Ali Imran ayat 97) dan yakin dicukupi Allah berbagai hidangannya, karena kita ke tanah suci Makkah sebagai tamu-tamu Allah.

c. Sabar

Level-level sabar dalam menghadapi safar dan haji atau umrah;

1) Sabar standar – atau sabar “ngempet”
Hal ini seperti disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari, “innama as shobru ‘inda as shodmati al ula” (Sesungguhnya sabar itu adalah ketika pertama kali mendapatkan musibah). Contoh-contohnya adalah sabar “ngempet” untuk antri, sabar “ngempet” dizalimi orang untuk membalasnya, dll.

2) Sabar Medium
Yaitu sabar “nrimo” – ridho, mengembalikan semua kepada yang sudah menjadi qadar Allah.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS 57:22).

3) Sabar Super Excellent
Sabar dalam level ini adalah yang bisa mensyukuri musibah.

Baca Juga :  Sejarah dan Keutamaan Bulan Muharram

وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Al-Baqarah: 216).

2. Materi Yang Halal

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ“

Allah hanya menerima dari orang yang bertakwa” (QS. Al Maidah: 27).

Imam Ahmad pernah ditanya oleh seseorang mengenai makna ‘muttaqin’ (orang yang bertakwa) dalam ayat tersebut dan beliau menjawab bahwa yang dimaksud adalah menjaga diri dari sesuatu yang tidak halal yang masuk ke dalam perut. Demikian dinukil dari kitab Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 262. Lihat pula pembahasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ath Thorifi dalam Shifat Hajjatin Nabi, hal. 39-40 dan Syaikh Sa’ad Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 92.

3. Mengaji Ilmu Haji Dan Umrah Dengan Sungguh-Sungguh Dan Jangan “Sotoy”

Ya Allah… Mudahkan urusan kami dalam menziarahi “Baitikal ‘Atiq” dan kekasih-Mu Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.