Inspirasi Tersembunyi dari para Difabel

Inspirasi Tersembunyi dari para Difabel

Inspirasi Tersembunyi dari para Difabel

Suaramuslim.net – Memiliki tubuh yang normal dan lengkap adalah harapan setiap manusia. semua orang tentu ingin terlahir sempurna tapi terkadang takdir berkata lain dan seseorang harus terlahir atau mengalami kecelakaan yang mengakibatkan fisik yang tidak sempurna. Sempurna atau tidaknya fisik manusia, itu merupakan ciptaan Allah dalam bentuk sebaik-baiknya. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-tin ayat (4) yang artinya, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah selalu adil pada manusia. Ketika seseorang mengalami kekurangan fisik, Allah melebihkannya dengan hal yang lain pada orang itu dan orang di sekitarnya.”

Menjadi seorang difabel tidaklah mudah karena selain harus menjalani hidup dengan fisik yang tidak sempurna, pandangan masyarakat pada umumnya terhadap difabel yang biasanya skeptis, membuatnya seolah menjadi golongan ketiga dalam tatanan masyarakat. Namun, di tengah itu semua ada beberapa difabel mampu membuktikan bahwa mereka mampu berprestasi sama dengan orang normal, bahkan melebihinya. Misalnya: 1. Nick Vujici (motivator yang terlahir tanpa tangan dan kaki), 2. Stephen Hawking (fisikawan yang terkena penyakit Amiotrofik lateral sklerosis), 3. Hee Ah Lee (pianis berjari empat), 4. Antoni Robles (pegulat dengan satu kaki), 5. Qian Hongyan (gadis kecil tanpa kedua kaki mampu berjalan dan berenang), 6. Ni Nengah Widiasih (atlet angkat besi), 7. Ryan Yohwari (atlet bulutangkis), 8. Jendi Pangabean (atlet renang), 9. David Michael Jacobs (atlet tenis meja), 10. M. Fadli (atlet paracycling).

Kondisi cacat yang mereka alami memang tidak mudah untuk dihadapi atau diterima. Akan tetapi mereka mau menerima kekurangannya, bahkan kekurangan itu tidak membuat para difabel lemah dan meratapi takdir. Justru sebaliknya ketidaksempurnaan yang dialaminya membuat mereka termotivasi untuk berjuang mengubah kekurangan menjadi prestasi. Dengan jalan berjuang, kebanggaan dan kesejahteraan hidup akan mereka dapatkan tanpa harus memelas kasih, menerima iba dari orang lain untuk menjalani hidupnya.

Jadi, jangan melihat para difabel dari kekurangan fisiknya, tapi lihatlah kelebihan pada apa yang mereka bisa lakukan. Jangan pandang para difabel dengan kasihan, pandanglah mereka sebagai pribadi mandiri. Kita akan belajar banyak dari para difabel tentang rasa syukur, kemandirian, pantang menyerah, optimis terhadap hidup dan kepedulian.

  1. Rasa Syukur

Jika kita mau menyelami kehidupan dan perjuangan mereka, maka kita akan merasa malu pada diri sendiri yang telah banyak mengeluh dan kurang bersyukur pada Allah. Mereka mengajarkan pada kita tentang arti penerimaan tanpa syarat, keikhlasan dan rasa syukur dengan perbuatan

  1. Pantang menyerah

Kekurangan fisik dan cemoohan yang mereka alami tidak membuat mereka meratapi takdir hidup. Ketidaksempurnaan membuat mereka terlecut untuk membuktikan diri bahwa mereka juga bisa berprestasi seperti orang yang normal. Seharusnya, semangat pantang menyerah kaum difabel membuat manusia normal merasa malu jika mereka berkeluh kesah terhadap kegagalan yang mereka alami.

  1. Kemandirian

Keinginan untuk tidak merepotkan orang lain, memacu para difabel bekerja dengan kemampuan yang mereka miliki untuk dapat menghidupi dirinya sendiri dan keluarga. Kita seharusnya mengapresiasi para difabel, bagaimana mereka menjalani hidup mereka dengan penuh kesabaran, ikhlas dan gigih.

  1. Optimis terhadap hidup

Kehidupan yang dijalani, memberikan pelajaran akan pentingnya positive thinking terhadap kehidupan yang dijalani. Berpikir positif akan menggugah semangat hidup dan optimisme di tengah cibiran masyarakat sekitar terhadap mereka. Mereka sanggup menerobos keterbatasan diri dan membuktikan bahwa dengan segala ketidaksempurnaan mereka bisa menjalani hidup seperti orang normal. Mereka tidak mau terpuruk dengan kekurangan yang mereka miliki. Rasa pesimis hanya akan  membuat hidup yang mereka jalani serasa sunyi, hampa dan tanpa gairah. Para difabel mengajarkan kepada kita bahwa hidup itu harus optimis, gigih dan bermanfaat untuk sesama. Jangan mudah berpikiran negatif dan pesimis terhadap takdir Allah. Kita harus yakin bahwa setiap takdir itu baik, jika kita mau berprasangka baik dan optimis terhadap takdir hidup.

  1. Kepedulian

Para difabel mengajarkan kepada kita akan arti penting untuk berbagi dan peduli kepada orang yang kurang beruntung. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Nabi menegaskan bahwa mereka yang saling mengasihi akan disayang Allah.

Mari kita rangkul para difabel sebagai teman kita, jangan pandang mereka inferior dan berbeda. Bantulah mereka mandiri dengan tidak mengasihani mereka. Apalagi para difabel juga manusia yang dimuliakan oleh Allah. “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam” (QS Al-Israa’  [17]: 70). Pentingnya kasih sayang dan memuliakan sesama juga ditekankan oleh Rasulullah.

Kontributor: Jefri firmansyah, S.Psi*
Editor: Oki Aryono

*Staf pengajar di SD Al Hikmah Surabaya

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment