SURABAYA (Suaramuslim.net) – Siang itu tangisan mahasiswa asal Magetan pecah, saat salah seorang ustaz membacakan dirinya menjadi wisudawan terbaik, dan sebagai ganjarannya, mendapatkan hadiah umrah gratis.

Tri Ma’arifan Najib (22), terlihat tertunduk lama, sambil sesekali air matanya diusap. Dari jauh, orang tuanya yang duduk di bagian belakang juga menangis haru, melihat anaknya hafal Al-Qur’an 30 juz, sekaligus menjadi wisudawan terbaik.

“Alhamdulillah, menurut saya semua keberhasilan, semua kesuksesan itu dari Allah SWT. Saya terus berdoa agar Allah SWT selalu mengampuni dosa kedua orang tua dan di situlah kedua orang tua akan mudahkan kita dalam rangka menggapai kesuksesan. Jika saya melakukan kesalahan, ingat, langsung meminta ampun dan istigfar kepada Allah SWT,” ujarnya saat ditemui Suaramuslim.net usai menerima penghargaan sebagai wisudawan terbaik mahasiswa STIDKI Arrahmah di Empire Palace Surabaya, Sabtu (14/12).

Saat salah seorang ustaz mengumumkan yang berhak mendapatkan hadiah umrah, alasannya yakni mahasiswa yang aktif sebagai penghafal Al-Qur’an dan juga berprestasi.

“Iya benar, saya dulu juga menjadi ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIDKI. Alhamdulillah, bisa aktif di organisasi juga aktif menghafal Al Qur’an. Tentang kepemimpinan sendiri, semua sahabat Al-Qur’an dapat mengambil peran. Kita tidak hanya menghafal Kalamullah tapi harus berinteraksi dengan masyarakat,” tambah pria asal Magetan ini.

Najib menyebut bahwa dirinya kaget saat menjadi wisudawan terbaik apalagi sampai mendapatkan umrah gratis.

“Dulu saya punya keinginan berangkat umrah. Orang tua dan kedua kakak juga sudah berangkat duluan, terus saya minta doa orang tua dan berdoa sendiri. Alhamdulillah doa itu terkabul dan sekarang bisa berangkat melalui pintu yang tidak disangka-sangka,” terangnya.

Di lain sisi, ibunda Najib, Ninik Harmini (58) dan ayahnya, Agustiono (59) menceritakan masa kecil Najib hingga dia menjadi penghafal Al-Qur’an.

“Dari kecil Najib ini ya suka dengan Al-Qur’an, namun ya tidak terlalu serius untuk menghafal, sekadarnya saja. Namun, Najib dari kecil memang saya didik dengan keras untuk menjadi penghafal Al-Qur’an, dua kakak lainnya juga ada yang menjadi penghafal Al-Qur’an,” kenang Ninik sambil berurai air mata.

Namun, selesai menamatkan bangku dasar, Najib tidak dipaksa memilih sekolah oleh orang tuanya. Mereka hanya mendoakan dan mengarahkan Najib pada pilihan yang baik.

“Dulu Najib saat kecil sering tidak percaya diri, dia ingin meniru kakaknya yang penghafal Al-Qur’an, namun selalu saya yakinkan bahwa insyaallah kamu bisa, dan alhamdulillah Najib semakin percaya diri,” tambahnya.

Bu Ninik lantas memberikan tips untuk para orang tua dalam mendidik anaknya agar bisa menghafal Al-Qur’an.

“Sebagai orang tua, harus selalu istiqamah dan mendoakan anak-anaknya, tidak menyerahkan anak begitu saja kepada pondok pesantren, tapi orang tua juga harus selalu mendoakan, dan selainnya pasrahkan kepada Allah SWT. Manusia hanya bisa merencanakan, Allah SWT yang mengatur semuanya,” pungkasnya.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.