Ketika Kita Yakin Kematian itu Pasti

Ketika Kita Yakin Kematian itu Pasti

Ketika Kita Yakin Kematian itu Pasti
Ilustrasi bunga yang layu.

Suaramuslim.net – Seorang dokter berkebangsaan Lebanon, Munir Syama’ah, menerbitkan buku yang berjudul Iqla’ wa Hubuth: Sirah Thabib min Ra’si Bairut (Tinggal Landas dan Mendarat: Autobiografi Seorang Dokter dari Jantung Kota Beirut).

Buku ini merupakan salah satu autobiografi terbaik. Gaya bahasanya sangat indah, ungkapannya terbuka dan benar-benar apa adanya. Di dalamnya banyak hal yang dapat diambil pelajaran dalam perjalanan usia kita. Satu di antaranya cerita penulisnya sebagai berikut:

Saya ingat akan peristiwa unik yang saya hadapi saat saya bekerja sebagai dokter di Saudi Arabia. Suatu hari, terlihat olehku dari kejauhan, seorang lelaki dengan hewan tunggangan miliknya. Bukan dia yang naik, tapi  seseorang yang berbaring tengkurap di atas hewan tunggangan.

Lambat laun semakin dekat dan makin jelas terlihat. Sampai akhirnya keduanya tiba di depan pintu klinik kesehatan tempat aku praktik. Ternyata ia adalah seorang Arab Badui yang menggiring hewan tunggangan dengan membawa anaknya yang berusia 15 tahun.

Lelaki itu membawa anaknya, lantas meletakkannya di atas ranjang pemeriksaan. Saya lihat ternyata anak itu sudah tak bernyawa. Saya tanyakan, “Siapa anak ini?” Dia menjawab, “Ini anak saya satu-satunya.”

Saya katakan padanya, “Maaf, anak Bapak sudah meninggal.” Ia hanya menanggapi dengan satu kalimat saja yang menggoncangkan hatiku. “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,” ucapnya.

Tanpa sadar, saya meresponnya dengan marah. Saya katakana, “Bagaimana Bapak katakan alhamdulillah?” Saat itu yang saya pahami bahwa kalimat ini diungkapkan untuk hal-hal yang baik atau menyenangkan.

Segera ia mengatakan kepadaku, “Segala puji bagi Allah yang tidak ada yang dipuji atas sesuatu yang tidak disukai kecuali Dia.”

Runtuhlah segala kekuatanku di hadapan gunung yang kokoh menjulang tinggi ini. Di hadapan fitrah yang lurus ini. Kedua mataku mengucurkan air mata yang deras tersebab oleh kalimat yang diucapkan oleh lelaki ini.  Dan seketika itu pula saya katakana, “Saya masuk Islam. Saya berserah kepada Allah Yang Maha Ahad.”

Peristiwa ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pemikiran dan menyebabkanku masuk Islam sebagai pemula. Dan pada akhirnya saya pun mengkaji Islam lebih dalam lagi.

Sekalipun sebenarnya sebelum peristiwa tersebut, saya masih menimbang-nimbang antara iman kepada Allah atau tidak beriman. Namun apa yang dikatakan oleh orang Arab badui yang buta huruf tersebut telah mendalamkan imanku kepada Allah Ta’ala serta meyakinkanku akan keagungan falsafah Islam, khususnya dalam memandang kematian. Dan memang itulah yang benar serta sejalan dengan sunnah kehidupan, buah akal sehat, misi manusia serta kemestian manusia kembali kepada Tuhan mereka untuk di-hisab dan diberi balasan.

Kebenaran ini semakin tampak olehku selama sekian tahun pengalamanku menangani para pasien muslim, khususnya orang-orang Saudi. Mereka menerima kematian dengan begitu ringan dan mudahnya, karena memang kematian itu sesuatu yang pasti.

Meskipun mereka sedih karena kehilangan orang yang dicintai, namun mereka tidak punya alasan untuk mengekspresikan secara berlebihan, dengan tatapan dan tangisan, seperti yang biasa terjadi di kalangan para penganut agama lain ketika terjadi kematian dan ketika mengurus jenazah. Sudah cukup bagiku petunjuk bahwa Islam adalah agama yang elok nan indah dengan apa yang saya saksikan di atas perihal pandangan mengenai falsafah kematian.

Kita kaum muslimin, alhamdulillah memiliki apa yang tak dimiliki oleh manusia lainnya, sekalipun mereka kaya dan makmur secara materi. Tahukah Anda, apa yang aku maksud? Yaitu: ketenangan dan ketenteraman!

Sesuatu yang telah ditanamkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ke dalam hati kita semua. Sehingga kita akhirnya tahu bahwa apa yang ditakdirkan luput dari kita tidak akan menimpa kita dan apa yang ditakdirkan akan menimpa kita tidak akan luput dari kita. Maka kita ridha kepada Allah dan kepada qadha’ dan qadar-Nya. Karena kita tahu bahwa pena telah diangkat dan lembaran tulisan taqdir telah kering. Takkan bisa dihapus. Tidak ada tempat untuk meratap dan tiada ruang untuk mengaduh. Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam. Alhamdulillah ala kulli hal ‘Segala puji bagi Allah atas segala keadaan.’

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment