Maaf-Memaafkan, Menghilangkan Dendam, Menumbuhkan Cinta

Suaramuslim.net – Maaf-memaafkan adalah kunci ketenangan jiwa. Dengannya akan menghilangkan dendam dan memunculkan cinta antar sesama.

Meskipun sudah menjadi ajaran Islam dan seharusnya menjadi karakter Muslim, maaf-memaafkan tidak semudah yang dibayangkan. Berikut ini dalil-dalil yang bisa mengingatkan kita untuk bisa lebih mudah meminta dan memberi maaf.

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Hal itu diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Al-Insaan makaanul khata wan nisyan.” Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi,  Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad dari  Anas bin Malik, Rasulullah bersabda bahwasanya, “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.”

Allah subhanahu wa taala berfirman dalam surat Al-Ahzab: 21, yang artinya, “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah teladan yang baik, yaitu bagi orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” Salah satu teladan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling baik untuk kita teladani ialah sifat pemaaf.

Dalam Al-Qur’anul karim sangat banyak dijelaskan sifat-sifat pemaaf. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syuura ayat 43, “Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”

Berikutnya yaitu dalam surat An-Nur ayat 22  “dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam surat Al-A’raf ayat 199, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan dengan kebiasaan-kebiasaan baik, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” Dalam surat Ali Imran ayat 134, “Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Dan masih banyak ayat lain tentang memaafkan yang tidak disebutkan di sini.

Sifat pemaaf dan suka meminta maaf tidak muncul begitu saja. Manusia harus membiasakan diri mereka untuk menjadi seorang pemaaf. Jika kita tahu bahwa menjadi pemaaf sejatinya dapat mengantarkan kita kepada ketenangan hidup, kebahagiaan, kita akan berusaha sebisa mungkin untuk mudah memberi dan meminta maaf. Memaafkan itu sendiri akan mendapatkan keridhaan dari Allah subhanahu wa taala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari sahabat Abu Hurairah, “Harta tidak akan berkurang gara-gara sedekah. Tidaklah seorang hamba memberikan maaf -terhadap kesalahan orang lain- melainkan Allah pasti akan menambahkan kemuliaan pada dirinya. Dan tidaklah seorang pun yang bersikap rendah hati (tawadhu’) karena Allah (ikhlas) melainkan pasti akan diangkat derajatnya oleh Allah.”

Belajar Memaafkan dari Rasulullah

Islam mengajarkan sikap memaafkan. Karena memaafkan membuat konflik menjadi reda, dendam menjadi sirna, dan menumbuhkan rasa cinta dan suka. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang sangat populer di kalangan umat Muslim. Diriwayatkan oleh Ahmad dari sahabat Uqbah bin Amir, “Wahai Uqbah, bagaimana jika aku beritahuhkan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, dan maafkanlah orang yang telah mendzalimimu”.

Banyak sekali dalam peristiwa yang menguji kesabaran Nabi Allah itu, salah satunya adalah peristiwa meninggalnya paman Rasulullah, sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah meninggal tertombak dalam perang Uhud oleh Wahsyi. Tak hanya itu, perut sayyidina Hamzah dirobek dan jantungnya dikunyah oleh Hindun binti Utbah. Mendengar cerita kematian Hamzah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah.

Sebenarnya Rasulullah ingin membalas mereka. Namun beliau lebih memilih memaafkan. Tetapi apa yang terjadi? Pada saat peristiwa Fathu Mekkah, Wahsyi dan Hindun datang meminta maaf kepada Rasulullah. Kedua orang itupun memeluk Islam dan menjadi pengobar panji Islam hingga akhir hayat mereka.

Allah subhanahu wa taala, pencipta alam semesta ini, Dzat yang Maha Segalanya, juga memiliki sifat pemaaf. Dalam surat Az-Zumar ayat 53 Allah subhanahu wa taala berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad) untuk hamba-hamba-ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kontributor: Abby Fadhilah Yahya
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.