Maritim Local Government Network Soroti Pentingnya Pembangunan Berkelanjutan Bagi Pemerintah Daerah

Maritim Local Government Network Soroti Pentingnya Pembangunan Berkelanjutan Bagi Pemerintah Daerah

Maritim Local Government Network Soroti Pentingnya Pembangunan Berkelanjutan Bagi Pemerintah Daerah
Beberapa orang nelayan sedang memindahkan hasil tangkapan ikannya (Foto: Istimewa)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Ketua Jejaring Pemerintah Daerah Maritim atau Maritim Local Government Network (MLGN) 6 Negara CTI, Ir Hugua mengingatkan pemerintah daerah harus memikirkan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tidak boleh egois dalam melangsungkan pembangunan, serta harus memikirkan daerah sekitar, kawasan dan dunia global.

“Para bupati, wali kota dan gubernur karena faktor otonomi terlalu sibuk dengan urusan lokal. Banyak perencanaan daerah yang hanya melihat kepentingan lokal. Tanpa melihat apa yang terjadi di daerah sekitar, kawasan dan dunia secara global,” ungkap Hugua saat Regional Workshop on Building National and Local Capacity on Measuring SETI for SDGs in Asia and The Pacific Region, di Holten Sultan, Jakarta, Ahad (16/6).

Lebih lanjut, Caleg DPR RI terpilih ini menambahkan, hubungan pembangunan antara kabupaten, provinsi, dan antar kawasan serta negara sejauh ini kurang begitu bagus. Kepala daerah dalam menyusun perencanaan dan anggaran pembangunan lebih banyak mementingkan kepentingan lokal. Kadang kala mereka tidak peduli dengan wilayah sekitar.

“Sehingga, tambang dengan mudahnya dikeluarkan ijinnya, hutan dibabat habis, penangkapan ikan berlebihan karena mengejar PAD-nya sendiri tanpa melihat kepentingan dan hubungan dengan kabupaten, provinsi serta kawasan kiri-kanannya,” tambah Ketua GIPI Sultra ini.

Menurut Ketua PHRI Sultra ini, pola pembangunan dan hubungan yang semacam ini harus diakhiri. Mengingat, iklim secara global juga terus berubah ke arah yang lebih buruk. Untuk meminimalisir dampaknya, pemerintah daerah berperan sangat penting.

“Mencairnya es di kutub arktik menandakan terjadi perubahan iklim. Banjir di mana-mana, Sultra dan Samarinda juga di Eropa, Australia, dan Amerika. Pemanasan hebat di India dan seterusnya. Ini terjadi salah satunya karena kepala daerah masih memikirkan dirinya sendiri,” bebernya.

Karenanya, lanjut Hugua, agar kepentingan iklim dan lingkungan global serta lokal ini nyambung, maka harus harus ada pengelolaan yang baik. Dia menyebutkan, selama ini ada kesenjangan antara pencapaian tujuan SGDs yang jumlahnya ada 17 sasaran.

SDGs yang diadopsi oleh PBB pada September 2015 merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada 2015 lalu.

“Di level PBB masih seputar akademis dialog dan diplomasi. Di level nasional, juga masih diskusi. Kapan implementasinya? Kepentingan global, nasional dan lokal ini harus timbal balik. Jangan global dan nasional berdiskusi, tapi di lokal tidak paham,” imbaunya.

Sejauh ini, sudah ada sejumlah kepala daerah seperti Mamuju Utara, Wakatobi, dan daerah kecil lainnya di wilayah Indonesia Timur yang aktif memikirkan hal ini. Akan tetapi, perlu gerakan nasional yang lebih massif.

Nantinya, akan ada semacam standar, format isian seperti program selektif penangkapan ikan, memelihara terumbu karang, memberdayakan nelayan sejenisnya.

Seluruh pihak harus bisa menghubungkan perencanaan anggaran yang ada di daerah melalui kartu yang diisi organisasi pemerintah daerah, agar dapat diukur seberapa jauh kontribusi daerah tersebut pada pembanguan SDGs.

“Otonomi daerah harus menjadi berkah untuk bumi. Kami dengan Unesco sudah merintis dan memulai. Jadi bupati, wali kota dan gubernur tidak hanya mengambil dan mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi mendorong pembangunan berkelanjutan. Kepala daerah juga harus dapat melibatkan multi stakeholder. Kita tengah membangunkan tidur lama para bupati, wali kota dan gubernur untuk sadar, mulai melihat diri kita dengan orang lain dan bumi kita,” paparnya.

Lewat workshop ini, UNESCO, Kemenko Maritim dan LGN mendorong negara-negara di wilayah Asia dan pasifik mengukur kontribusi kegiatan scorecard untuk sains, teknik, teknologi dan inovasi (SETI) untuk SDGs.

Hadir dalam workshop ini, Prof. Shahbaz Khan selaku Direktur Unesco Office Jakarta, Ir Andri Wahyono Asisten Deputi Sumber Daya Hayati Kemenko Maritim, dan 50 peserta dari enam negara anggota yang berada di segi tiga karang dunia atau Coral Triangle Initiative (CTI) yakni Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste, Kepulauan Solomon dan Filipina.

Asisten Deputi Sumber Daya Hayati Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Andri Wahyono mengatakan, pertemuan ini bertujuan untuk mendorong pencapaian target SDGs.

“Meningkatkan koherensi antara rencana pembangunan nasional dan global,” kata Andri Wahyono.

Reporter: Ali Hasibuan
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment