Tolak Revisi UU KPK, Tokoh Agama Datangi Gedung KPK
Pegawai KPK memagari gedung KPK sambil membawa spanduk (Foto: KPK)

Suaramuslim.net – Pada saat revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi disahkan oleh DPR hari ini, setelah melalui proses yang cacat prosedur dan cacat etika, kita segera menyaksikan bahwa masa depan Republik ini berada di ujung tanduk.

KPK dengan platform barunya ini praktis menjadi instrumen power play penguasa. Pada saat oposisi di parlemen tidak efektif, anggotanya tidak aspiratif, dan tersandera banyak kasus, elite polisi dan tentara terbeli, kebebasan berekspresi diberangus, dan kampus terscopus, maka Republik ini lambat tapi pasti meluncur jatuh menjadi police state di mana berlaku rule by law, bukan rule of law.

Hemat saya, yang bisa menyelamatkan Republik ini tinggal satu: minoritas kreatif dalam masyarakat sipil dan birokrasi serta tentara.

Kreativitas yang menjadi daya kekuatan perlawanan masyarakat sipil telah dilumpuhkan oleh persekolahan paksa massal yang secara terstruktur, sistematik dan masif mendungukan masyarakat.

Kreativitas birokrasi, polisi dan tentara telah dilumpuhkan oleh kehidupan pas-pasan berkepanjangan yang menyuburkan budaya korupsi.

Birokrasi dan polisi mudah diperalat menjadi kaki tangan pemerintah, bukan abdi negara yang hanya setia pada konstitusi. Akibatnya birokrasi mudah diintimidasi untuk kepentingan politik jangka pendek.

Profesionalitas dan inovasi pelayanan publik hilang dalam suasana kerja yang politicking, tidak meritokratik, sing jujur ajur.

Pembangunan infrastruktur tidak menghasilkan pelayanan prima yang value for money, tapi malah dikorupsi menjadi value for money saja.

Jika Al Farabi mengatakan bahwa nasib sebuah bangsa lebih ditentukan oleh rakyatnya, bukan pemimpinnya, maka melihat kelumpuhan national leadership ini, masa depan Republik ini hanya bisa mengandalkan followership: saat kepemimpinan nasional gagal meneladankan sikap etis dengan standar tertinggi, maka harus ada minoritas kreatif yang berani maju menegur dan mengambil alih sambil mengatakan: enough is enough.*

Gunung Anyar, 17/9/2019
Daniel Mohammad Rosyid
Direktur Rosyid College of Arts & Maritime Studies

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.