Menghargai Orang Lain dengan Menatap Wajah

Suaramuslim.net – Sudah lama tidak kita dapati jika orang berbicara mereka tidak saling menatap wajah. Orang datang ke warung kopi atau angkringan saja mereka tidak untuk saling berbicara meski secara tubuh berkumpul.

Dengan adanya gawai (smartphone) keberadaan dan pertemuan fisik terasa hambar. Tidak saling menatap wajah dan sibuk dengan layar.

Datang ke warung kopi atau angkringan sekedar sapa kanan kiri kemudian menghadap gawai kesayangan. Kemudian mereka enggan saling ngobrol dan mereka lebih fokus ke layar kecil yang membuat mata pedas.

Kondisi seperti ini berakibat fatal. Jika tidak ada proses penyadaran. Yang jauh terasa dekat namun maya, yang dekat terasa jauh dan ini delematis. Muncul generasi asosial (secara fisik). Tidak kenal kanan kiri. Jika dipanggil merasa susah diri atau terganggu.

Kemudian dengan adanya keadaan ini maka meski saling berkumpul untuk saling tahu tidak terjadi. Ini belum berkembang jika kemudian tetangga saja tidak saling kenal. Padahal ini mungkin terasa berlebihan. Karena dengan ini saja maka sudah menjadi gambaran yang jelek.

Baca Juga :  Bersekolah Tapi Tak Terdidik

Orang zaman sekarang dengan istilah generasi milenial dengan suka hal yang praktis ini maka mereka dengan gampangnya berkenalan dengan yang jauh. Namun untuk yang dekat saja mereka tidak tahu. Tidak kenal. Kalau toh kenal mereka tidak mendapatkan sesuatu dari berkumpul.

Kalau kembali ke zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau berkumpul dengan para sahabatnya. Rasulullah menghadap atau menatap kepada wajah satu persatu wajah sahabatnya. Bahkan ketika bercanda di hadapan para sahabatnya juga masih tetap menatap. Dan sangat menghargai orang lain atau lawan bicara. Ketika sahabatnya berbicara beliau tidak memotong sama sekali. Ditunggu sampai selesai. Ditunggu kata-kata yang keluar sudah berhenti. Dan Rasulullah menghadapkan telinga dan wajah dengan sempurna. Sehingga lawan bicara merasa sangat dihormati oleh Rasulullah.

Menatap wajah dengan lekat. Jika kuat maka tatap mata lawan bicara. Terpenting dalam menatap lawan tidak dengan lirikan atau menempatkan hitam mata di sudut. Terasa meremehkan dan mengundang pertanyaan yang mengandung kecurigaan. Ada apa dan kenapa dia menatap demikian?

Baca Juga :  Antara Pemimpin dan Diksi Perpecahan

Dalam menatap wajah juga fokus pada satu area tubuh saja. Jangan sampai terlihat berlebihan dalam menatap. Menatap dari kaki ke atas atau sebaliknya, maka membuat kecurigaan dari kalangan tertentu. Selain itu juga membuat tidak nyaman. Merasa ada yang salah.

Dalam riwayat yang lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Musa, ia berkata,”Seorang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya,’Ya Rasulullah, Apa yang dimaksud dengan perang di jalan Allah? Karena di antara kami ada yang perang karena marah dan karena gengsi. Rasulullah mengangkat kepalanya (memandang) kepadanya, tapi beliau tidak mengangkat kepalanya (memandang) kepadanya kecuali karena orang itu berdiri, kemudian beliau bersabda,”Barangsiapa berperang untuk meninggikan agama Allah, maka ia fisabilillah.”

Dari hadits di atas begitu jelas, jika manusia paling mulia sangat menghargai lawan bicara dengan menatap tanpa bosan. Memang tidak dipungkiri jika lawan bicara dengan gaya bahasa yang merendahkan atau terasa bertele-tele juga menyebalkan. Namun jika kita tetap menghargainya maka inilah bentuk akhlak yang baik.

Baca Juga :  Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, Haruskah?

Oleh: Muslih Marju
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.