Beginilah Cara Menjadi Guru Teladan

Suaramuslim.net – Dalam buku terbarunya, Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045, pakar peradaban dan pendidikan Islam Dr. Adian Husaini memuat artikel penting yang perlu dibaca dan direnungkan oleh setiap guru.

Artikel itu berjudul Menjadi Guru Beradab. Dari buku setebal 326 halaman, hanya artikel ini yang secara khusus ditujukan kepada guru. Dr. Adian Husaini memulai pembahasan dengan menegaskan pandangan Islam terhadap guru atau guru dalam pandangan Islam.

Guru dalam pandangan Islam

Menurut Dr. Adian Husaini, guru dalam pandangan Islam adalah mu’allim dan mu’addib. Jadi, guru harus memiliki ilmu dan adab. Ilmu penting karena ilmu inilah yang akan diajarkan ke murid, sedangkan adab merupakan perhiasan ilmu. Ilmu dan adab tidak boleh dipisahkan. Ilmu dan adab harus ada dalam diri seorang guru.

Definisi guru sebagai mu’allim dan mu’addib, walaupun sudah jamak diketahui, perlu terus-menerus diingatkan. Kadang-kadang guru lupa dengan tugasnya sebagai guru. Guru hanya merasa sebagai pengajar semata; masuk kelas, menyajikan materi pelajaran, menguji murid, dan seterusnya. Guru tidak merasa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perbaikan akhlak dan adab murid. Guru dalam pandangan Islam tidak demikian.

Peran guru sebagai penanam adab

Guru bukan “tukang ngajar”, begitu istilah Dr. Adian Husaini. Tugas guru bukan tugas tukang. Tukang hanya menyelesaikan pekerjaan fisik. Ketika pekerjaan fisik selesai, tukang tidak bertanggung jawab terhadap ruh pekerjaannya, sebab yang tukang kerjakan memang benda mati yang tidak berubah. Murid tidak demikian. Murid adalah manusia yang memiliki fisik dan jiwa. Guru tidak hanya bertanggung jawab berbagi ilmu kepada murid tetapi juga bertanggung jawab memperbaiki jiwa murid. Di sinilah peran guru sebagai penanam adab.

Baca Juga :  6 Peraturan yang Harus Dipatuhi Saat Berwisata

Sebagai agen penanam adab, guru perlu lebih dulu berbenah daripada murid. Sebuah mahfuzhat berbunyi, “ath thariqah ahamu minal madah, wal ustaadzu ahammu min ath-thariqah, wa ruuhul ustadz ahammu min al ustadz. (metode pelajaran lebih penting dari pelajaran, guru lebih penting dari metode, dan ruh guru lebih penting dari guru itu sendiri)”.

Ungkapan ini menunjukkan, perbaikan dunia pendidikan secara keseluruhan harus dimulai dari perbaikan jiwa guru. Jiwa atau ruh gurulah yang perlu lebih dahulu dibenahi sebelum gedung-gedung, buku-buku pelajaran, dan berbagai strategi pendidikan dan pembelajaran. Gedung, buku, dan strategi pembelajaran penting, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah jiwa guru sebab guru merupakan ujung tombak pendidikan sedang guru itu sendiri sangat bergantung kepada jiwanya.

Jiwa guru meliputi pola pikir dan amaliahnya. Apakah pola pikirnya Islami? Apakah amaliah-nya Islami? Pola pikir menentukan apakah ilmu yang akan diajarkan kepada murid benar-benar ilmu, bukan kepalsuan. Sebagai contoh, guru mengajar murid bahwa manusia berasal dari kera.

Baca Juga :  Tekad Kuat Baqi bin Makhlad dalam Mencari Ilmu

Padahal pada saat yang sama ia meyakini manusia merupakan anak cucu Nabi Adam as. Ia meyakini dua hal yang saling bertentangan satu sama lain pada saat yang bersamaan. Bagaimana bisa? Inilah yang disebut dualisme. Kebenaran pertama ia yakini sebagai kebenaran ilmiah, sedangkan kebenaran kedua ia yakini sebagai kebenaran ilahiah.

Guru yang pola pikirnya Islami tidak akan berpikir apalagi mengajar seperti ini. ia harus meyakini hanya satu yang benar, yaitu manusia merupakan anak cucu Adam. Ia harus yakin bahwa teori yang menyatakan manusia adalah keturunan kera merupakan teori keliru berdasarkan dalil Al Quran, nasab, sejarah, arkeologi, dan bukti-bukti penelitian empiris.

Selain itu, Ia harus berada di pihak yang benar walaupun sebuah kesalahan didukung oleh komunitas yang besar. Ia tetap tidak boleh mengajar sesuai kurikulum walaupun misalnya, ia yang membuat kurikulum itu. Di kelas, ia harus memberitahu murid bahwa teori manusia dari kera salah walaupun tertulis dalam buku teks sedangkan manusia adalah keturunan adam sah, benar, walaupun tidak ada dalam buku teks. Inilah peran penting guru. Murid benar-benar belajar pada guru, bukan pada buku teks.

Selain dituntut memiliki pola pikir yang benar, guru juga dituntut memiliki amaliah yang dapat diteladani. Dalam kitab Taisirul Khallaq fii ‘Ilmil Akhlaq, Hafizh Hasan Mas’udi menekankan bahwa guru adalah dalilu tilmidzi (panutan/tuntunan murid). Sebagai dalil murid, guru harus benar agar murid tidak salah.

Baca Juga :  Hidangan Hangat, Siswa Bersemangat

Kitab taisirul khallaq karya Hafizh Hasan Mas’udi merupakan kitab tipis yang disiapkan untuk santri-santri diniyah. Uniknya meskipun kitab ini ditujukan kepada anak-anak diniyah, bab adabul mu’allim (adab guru, sekali lagi, adab guru, bukan adab kepada guru) diletakkan paling depan setelah bab taqwa sebagai tujuan berakhlak. Ini menunjukkan bahwa guru harus beradab terlebih dahulu agar dapat membimbing dan menjadi panutan bagi murid-muridnya.

Berikut ini selengkapnya bab adabul mu’allim dalam kitab Taisirul Khallaq:

Guru adalah penuntun murid untuk menyempurnakan ilmu dan ma’rifat. Syarat menjadi guru ialah memiliki sikap terpuji. Ruh murid masih lemah dibandingkan gurunya. Apabila guru bersifat sempurna, murid akan meniru gurunya.

Jika demikian, seorang guru seharusnya bertaqwa, tawadhu, lemah lembut, agar murid simpati padanya, sehingga murid dapat mengambil manfaat dari guru.

Seorang guru harus bijaksana, sopan santun agar murid meneladaninya. Guru juga harus mengasihi murid-muridnya. Guru hendaknya senantiasa memberi nasehat, mendidik adab agar adab muridnya semakin baik. Guru hendaknya tidak memberi beban pelajaran kepada murid yang belum mampu dipikul oleh murid.

Semoga Allah ta’ala merahmati kita dengan adab yang baik.

Oleh: Wahyudi Husain*
Editor: Oki Aryono

*Staf Pengajar Pesantren At-Taqwa Depok, Jawa Barat

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.