Janganlah Menjadi Guru Karbitan

139
Janganlah Menjadi Sosok Guru Karbitan

Suaramuslim.net – Karya kreatif tidak lahir hanya karena kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat. Ada tiga faktor yang menentukan prestasi kreatif seseorang, yaitu: motivasi atau komitmen yang tinggi, keterampilan dalam bidang yang ditekuni, dan kecakapan kreatif. (Torrance, 1978 : 12)

Kalau kita ingin menikmati suatu buah dalam waktu cepat mungkin kita bisa menyiasatinya dengan cara mengkarbit. Meskipun tentu rasanya berbeda ketika kita sabar menunggu hingga buah tersebut matang secara sempurna saat masih di pohon. Segala sesuatu yang ingin kita capai secara maksimal pasti membutuhkan proses yang lebih lama serta kesabaran yang tiada tara. Apalagi dalam suatu proses pendidikan di mana guru menjadi mediator tersampaikannya suatu ilmu kepada para siswa.

-Advertisement-

Menjadi guru kreatif tidak cukup ditempuh dalam waktu semalam, atau dengan persiapan serampangan. Tidak pula dengan memaksakan suatu konsep atau strategi yang belum sepenuhnya ia kuasai secara matang sebagaimana proses pengkarbitan. Namun menjadi guru kreatif membutuhkan proses panjang dan kemauan kuat untuk terus belajar sehingga bisa mempersembahkan pembelajaran menarik yang dapat membantu siswa memahami suatu pelajaran dengan mudah dan menyenangkan.

Baca Juga :  Bahaya Tayangan Pornografi Bagi Otak

Ada banyak buku yang telah membahas bagaimana kiat untuk menjadi guru kreatif. Maka di sini saya tidak ingin berpanjang lebar membahasnya kembali. Hanya ada tiga hal yang perlu menjadi perenungan kita bersama untuk menjadi guru yang lebih kreatif.

  1. Semangat belajar. Kita sering memerintahkan kepada para siswa untuk rajin belajar. Pertanyaannya, pernahkah kita memotivasi diri untuk senantiasa mau belajar? Atau kita telah cukup puas dengan ilmu yang kita dapatkan ketika duduk di bangku kuliah dulu? Padahal waktu terus bergerak, perkembangan ilmu semakin pesat. Dan menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat.
  2. Kedekatan dengan siswa. Belajar merupakan hak yang dimiliki siswa, dan guru wajib untuk merebut hak tersebut dari mereka. Masing-masing siswa di setiap sekolah atau kelas memiliki kecenderungan yang berbeda. Pendekatan yang dilakukan guru adalah upaya untuk semakin mengenal siswa sehingga mereka mau memberikan haknya secara suka rela dan tanpa rasa terpaksa.
  3. Ketulusan niat. Pada hakikatnya setiap kualitas upaya kita ditentukan oleh ketulusan niat di dalam hati. Niat akan menjadi kekuatan seseorang dalam menghadapi berbagai rintangan. Niat pula yang akan menjadi pembeda dan syarat diterimanya suatu amal kebajikan. Maka mari kita senantiasa berupaya meluruskan niat dalam mengabdikan diri di dunia pendidikan.
Baca Juga :  Pantaskah Guru Sebagai PNS?

Bersabarlah dalam proses menjadi guru kreatif. Dan jangan silau oleh mereka yang hanya puas menjadi guru karbitan. Sejenak mari kita bayangkan saat rambut kita telah beruban, tubuh kita telah melemah, kita melihat para siswa kitalah yang menjadi penguasa negeri bahkan dunia ini. Tidak hanya karena kekuatan pikir dan nalar yang mereka miliki namun juga lantaran keteguhan hati serta iman dalam sanubari.

Oleh: Santy Nur
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.