Menumbuhkan motivasi pengurus organisasi; dari flow, apresiasi, hingga ilmu bahagia

Suaramuslim.net – Organisasi kadang sibuk menyusun program, lalu lupa menengok orang-orang yang akan menjalankannya. Apakah mereka masih bersemangat? Apakah mereka masih merasa punya ruang untuk bertumbuh?

Pertanyaan sederhana seperti ini penting bagi ICMI, karena gagasan besar selalu membutuhkan pengurus yang hatinya tetap menyala.

ICMI sejak awal dibangun di atas semangat keilmuan dan pengabdian. Organisasi ini mempertemukan banyak orang baik dengan pengalaman, profesi, dan cara pandang yang berbeda. Karena itu, menjaga motivasi pengurus bukan sekadar urusan teknis organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar merawat amanah keilmuan dan kebangsaan.

Program kerja tentu penting. Struktur juga tetap diperlukan. Namun organisasi tidak hanya hidup oleh agenda dan keputusan rapat. Ia hidup oleh rasa memiliki, suasana saling percaya, dan keyakinan bahwa setiap orang yang hadir punya tempat untuk memberi makna.

Dalam organisasi sosial seperti ICMI, motivasi tidak selalu lahir dari instruksi. Kadang ia tumbuh dari hal-hal sederhana: pendapat yang didengar, kontribusi yang diakui, atau ucapan terima kasih yang datang tepat waktu.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak selalu masuk laporan, tetapi sering menentukan panjang-pendeknya napas organisasi.

Martin Seligman dalam Flourish (2011) menjelaskan bahwa kesejahteraan manusia tumbuh dari emosi positif, keterlibatan, hubungan yang baik, makna, dan pencapaian. Ia menyebutnya model PERMA: Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, dan Accomplishment. 

Dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, orang akan lebih kuat ketika merasa hidupnya berarti dan hubungannya dengan orang lain tetap terjaga.

Gagasan ini terasa dekat dengan kehidupan ICMI. Pengurus akan lebih bersemangat ketika merasa terhubung dengan sesama pengurus. Ia akan lebih betah ketika pekerjaannya memiliki makna. Ia juga akan lebih kuat ketika melihat ada kemajuan, meskipun kecil. Dalam konteks ICMI, motivasi bukan hanya soal tugas, tetapi juga soal rasa memiliki.

ICMI memiliki modal besar untuk menumbuhkan motivasi seperti itu. Ada ilmu, jaringan, pengalaman, dan niat baik. Ada akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, aktivis, ulama, dan anak muda yang membawa energi masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana semua energi itu dirangkai agar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan.

Mihaly Csikszentmihalyi dalam Flow: The Psychology of Optimal Experience (1990) menyebut ada keadaan ketika seseorang larut dalam aktivitas yang bermakna. Ia menyebutnya flow.

Dalam keadaan ini, seseorang tidak sekadar bekerja, tetapi menikmati prosesnya. Ada tantangan, tetapi tidak membuatnya tertekan. Ada usaha, tetapi hati tetap terasa hidup.

Dalam ICMI, flow bisa muncul dari hal-hal sederhana. Seorang pengurus merasa hidup ketika diberi amanah sesuai bidangnya. Pengurus muda merasa tumbuh ketika diberi ruang untuk mencoba. Seorang senior merasa dihargai ketika pengalamannya didengar dan menjadi bekal bagi generasi berikutnya.

Semua itu mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi justru di sanalah organisasi menemukan energi batinnya.

Flow tidak tumbuh di ruang yang terlalu kaku. Ia membutuhkan kepercayaan, keterbukaan, dan rasa aman untuk berkontribusi.

Namun flow juga tidak berarti bekerja tanpa arah. Ia lahir ketika kemampuan, tantangan, dan makna bertemu secara seimbang. Maka tugas organisasi bukan hanya membagi pekerjaan, tetapi juga menjaga suasana agar orang bisa mengalir dalam perannya.

Stephen Robbins dan Timothy Judge dalam Organizational Behavior (2024) membahas pentingnya Quality of Work Life dan Work–Life Balance.

Dalam dunia kerja, orang bertahan bukan hanya karena pekerjaannya, tetapi karena merasa hidupnya tetap seimbang. Organisasi sosial pun tidak berbeda. Dalam ICMI, dua gagasan ini bisa dibaca sebagai ajakan untuk menjaga kualitas kehidupan pengabdian.

Pengurus ICMI mungkin tidak mencari fasilitas. Tetapi setiap orang tetap membutuhkan penghargaan. Yang membuat seseorang bertahan sering kali bukan hal besar, melainkan pengalaman kecil yang terasa manusiawi: idenya didengar, waktunya dihormati, kontribusinya diakui, dan kehadirannya dianggap penting. Dalam suasana seperti itu, pengabdian terasa lebih ringan.

Rapat yang baik bukan hanya rapat yang menghasilkan keputusan. Rapat yang baik juga meninggalkan rasa bahwa orang-orang di dalamnya saling menghormati. Kadang rapat memang harus serius, apalagi ketika membahas hal penting. Namun keseriusan tetap bisa berjalan bersama kehangatan.

Ruang yang memberi kesempatan bicara, mendengar dengan sabar, dan menanggapi dengan empati akan membuat orang merasa ikut memiliki.

Karena itu, kerja sosial jangan sampai kehilangan rasa sosial. ICMI membawa misi yang besar dan mulia. Cara mengelolanya juga perlu mencerminkan kemuliaan itu: tertib, hangat, saling mendukung, dan tidak membuat orang merasa berjalan sendirian.

Motivasi tumbuh ketika pengurus merasa berada dalam lingkungan yang sehat dan saling menguatkan.

David Cooperrider dan Suresh Srivastva dalam Appreciative Inquiry in Organizational Life (1987) menawarkan pendekatan yang menarik. Organisasi tidak hanya berkembang dengan melihat kekurangan, tetapi juga dengan menemukan kekuatan yang sudah ada.

Perubahan bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: apa yang sudah berjalan baik, siapa yang sudah berkontribusi, dan praktik baik mana yang layak diperkuat.

Pendekatan apresiatif ini penting untuk ICMI. Sebab organisasi ini memiliki banyak warisan karya dan pengalaman yang bernilai. Forum-forum diskusi intelektual, gagasan kebijakan, kolaborasi dengan kaum muda, dan kerja bersama berbagai elemen masyarakat adalah bagian dari kekuatan yang layak terus dirawat.

Dari ruang-ruang seperti itu, ICMI menunjukkan perannya sebagai wadah pemikiran, pengabdian, dan kontribusi kebangsaan.

Pada masa awal perkembangannya, ICMI tidak hanya sibuk membuat program. Forum diskusi berjalan hidup, mulai dari Focus Group Discussion atau FGD, diskusi dengan intelektual muda dan mahasiswa, sampai kerja bersama lembaga NGO. Semua itu menjadi bagian dari tradisi memberi koreksi, masukan, dan saran bagi kebijakan pemerintah.

ICMI ikut memikirkan strategi besar negara, dari ekonomi sampai arah pembangunan jangka panjang. Banyak gagasan dibangun dengan pendekatan yang lembut, cerdas, dan strategis.

Ada semangat intelektual yang membangun: bagaimana cara berpikir cendekia bisa menjadi kekuatan moral dan kebijakan publik yang menyejukkan.

Semangat seperti itu tetap relevan untuk hari ini. Bentuknya bisa berbeda, tetapi ruhnya sama: keberanian berpikir, kesediaan mendengar, dan kemauan bekerja bersama. ICMI tidak perlu hanya melihat masa lalu sebagai cerita, tetapi sebagai modal untuk menjawab tantangan zaman.

Di sinilah Knowledge Management cukup menjadi pengingat. Laporan APQC, 2025 Knowledge Management Priorities and Trends Survey Report, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh budaya berbagi.

Bagi ICMI, ini bisa dimulai dari hal sederhana: mencatat pengalaman baik, membagikan hasil rapat, menyimpan pembelajaran kegiatan, dan menularkan inspirasi antarwilayah.

Pengetahuan yang dibagi akan menjadi energi; pengetahuan yang disimpan sendiri pelan-pelan bisa menguap.

Maka menumbuhkan motivasi pengurus ICMI bukan hanya perkara memberi semangat. Ia berkaitan dengan budaya organisasi. ICMI perlu terus menjadi ruang yang saling menguatkan, memberi tempat bagi ide baru, menghormati pengalaman senior, dan membuka kesempatan bagi yang muda untuk mencoba. Hal-hal seperti ini sederhana, tetapi sering menjadi penentu masa depan organisasi.

ICMI akan tetap kuat bukan semata karena banyak program, tetapi karena banyak hati yang masih menyala. Hati yang mau belajar lagi walau pernah lelah. Hati yang tetap hadir karena merasa ada makna yang ingin dirawat. Hati yang percaya bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala, tetapi harus turun menjadi karya.

Dalam pandangan Islam, kebahagiaan sejati bukan hidup tanpa ujian, tetapi memiliki arah di tengah ujian. Allah memberikan pesan yang sangat menenangkan: “Lā tazan, innallāha maanā” — jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita (QS. At-Taubah: 40).

Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan tidak selalu datang dari keadaan yang mudah, tetapi dari keyakinan bahwa setiap langkah baik tidak pernah benar-benar sendiri.

Maka ilmu bahagia bukan sekadar teori psikologi atau strategi organisasi. Ia adalah cara hidup yang sederhana: bekerja dengan makna, berbagi dengan cinta, dan berjalan dengan keyakinan.

Ketika pengurus ICMI merasa dihargai, diberi ruang, dan diajak tumbuh bersama, organisasi tidak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga tempat menata hati.

Barangkali kebahagiaan sejati dalam berorganisasi bukan saat semua rencana berjalan mulus. Kebahagiaan itu hadir ketika kita tahu bahwa setiap langkah kecil, selama diniatkan dengan tulus, tetap menjadi bagian dari pengabdian.

Di sanalah ICMI menemukan napas panjangnya: ilmu yang mengalir, silaturahim yang menguatkan, dan motivasi yang tumbuh dari hati yang tenang.

Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.