NU - nahdlatul ulama
Lambang Nahdlatul Ulama (Foto: ippnuancabkaliwungu.blogspot.co.id)

Suaramuslim.net – Tahun ini Nahdlatul Ulama (NU) merayakan hari jadi yang ke 95. NU adalah organisasi terbesar di Jawa timur dan beberapa provinsi di luar jawa. Populasinya luar biasa khususnya di daerah Tapal kuda dan pulau Madura. Bila anda berdomisili di provinsi ini, hidup Anda penuh nuansa religiusitas. Bersama NU, tidak terasa hampa bila berinteraksi dengan para pengikutnya.

Dunia orang NU takkan lepas dari 3 hal. Menghormati kyai, menghidupkan tradisi dan ziarah ke makam wali. Seperti itu yang bisa dilihat secara kasat mata bila ingin menyelami dunia orang NU. Orang di luar NU khususnya para politisi bisa meraih simpati melalui 3 hal ini.

Posisi Kyai di dunianya orang NU menempati posisi penting. Dawuh, pemikiran dan fatwanya amat berpengaruh. Omongan camat, lurah bahkan presiden takkan digubris! Tanpa adanya figur kyai, orang-orang NU terombang-ambing. Majlis taklim bisa redup tanpanya.

Fakta tak terbantahkan sebuah majlis taklim di kota seribu ruko mendadak ditinggal kyainya. Kini beralih ke anaknya. Kharisma sang kyai tidak diwarisi sang anak. Tanpa figur kyai, sebuah pesantren terancam bubar. Ketika seorang Kyai wafat, orang NU masih memuliakannya. Diadakanlah acara peringatan Haul, ziarah ke makamnya hingga menerbitkan biografi dalam bentuk buku maupun film.

Baca Juga :  Hasyim Asy’ari: Sang Pendidik Karakter Bangsa

Coba lihat dampak fatwa Resolusi jihad Hadratussyeikh Hasyim asy’ari. Tanpa fatwa itu, apa mungkin santri-santri dari Jombang, Malang dan sekitarnya mau berangkat jihad ke Surabaya.

Tanpa ide cemerlang Kyai Wahab Chasbullah, apakah tradisi Halal bi halal bisa terselenggara di istana negara dan seluruh pelosok Indonesia? Tanpa restu Kyai As’ad Syamsul Arifin dan ide cemerlang Kyai Ahmad Siddiq (ulama terkemuka asal Jember), apa mau mayoritas orang NU menerima Pancasila sebagai asas organisasi?

Ngalor ngidul derek kyai” Begitulah bunyi salah satu falsafah hidup orang NU. Mengganggu Kyai sama saja cari mati. Inilah yang menimpa PKI tahun 1966 dan ormas satunya pada awal 2000-an. Sebetulnya, Ormas satunya itu korban amuk massa. Panti asuhan dan lembaga pendidikannya di sekitar Pasuruan dan Sidoarjo dirusak pengikut fanatik cucu pendiri NU. Gara-garanya salah satu elit ormas itu membuat junjungan orang NU lengser dari kursi RI-1. Elit ormas itu baru saja merayakan ulang tahun yang ke 74. Akhir-akhir ini beliau getol mempromosikan besannya menjadi Calon wakil Presiden. Entah mendampingi Pak jokowi atau Capres lainnya.

Baca Juga :  Kilas Balik Hari Santri dan Momentum Resolusi Jihad

Tradisi Nahdlatul Ulama

Beralih ke menghidupkan tradisi. Dunia orang NU takkan lepas dari tradisi bernafaskan Aswaja. Sholawatan, diba’an, yasinan, tawasulan, manaqiban dan masih panjang bila disebut satu persatu. Dalam buku Prof AS Hikam Gus durku, Gus dur Anda, Gus dur Kita (Yrama media, 2003), Mantan Presiden Abdurrahman wahid berkata,

Lifeworld NU itu ya tradisi, khazanah ilmu agama dan amalan-amalan yang diwariskan dan diamalkan oleh pesantren dan warga nahdliyin. Kalau ini hancur, sudah tidak ada artinya lagi NU“.

Lebih tepatnya, amaliah-amaliah dari menghidupkan tradisi itulah yang membedakan orang NU dengan organisasi lain. Tiap organisasi atau gerakan keagamaan harus punya ciri khas atau keunikan. Keunikan inilah daya jualnya. Misalnya, Hizbut tahrir dikenal dengan “khilafah”. Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan “Pluralisme agama” dan Jamaah tabligh dengan doktrin “Khuruj” (ke luar daerah untuk berdakwah).

Persoalan menghidupkan tradisi di tengah umat, sedikit banyak ada dampak nyata terhadap orientasi pendidikan agama yang dibangun NU. Menurut Prof Dr. Djamaluddin darwis, Dinamika Pendidikan Islam (Rasail, 2010),

Baca Juga :  KH. Hasyim Asy’ari: Ulama Nusantara Benteng Agama (2)

Orientasi pendidikan agama di NU fokus pada pelestarian paham dan tradisi yang sifatnya tradisional. Sedangkan di gerakan keagamaan lain seperti Muhammadiyah, menekankan pada penguasaan ilmu-ilmu sekuler tanpa meninggalkan pendidikan agamanya.”

Terakhir, sebelum mengakhiri tulisan ini, ziarah ke makam wali merupakan hal yang tak terpisahkan dari dunia orang NU. Keberadaan makam wali sama pentingnya dengan makam Rasulullah saw. Jika satpol PP berani menggusur apalagi menodainya sama saja cari mati. Bukan lebay, ini fakta tak terbantahkan. Ingat bentrokan yang terjadi di makam Mbah priok? Tercatat ada dua aparat Satpol PP yang meninggal di tempat kejadian.

Keberadaan makam wali disamping untuk “ngalap barokah” dan menghidupkan geliat ekonomi warga sekitar makam, fungsi makam itu sebagai jejak syiar Islam. Bila makam wali digusur, maka bukti otentik kesejarahannya sirna. Hal itulah yang terjadi di Arab Saudi, dimana situs situs sejarah dibongkar habis, menyisakan makam Rasulullah saw, kebun kurma ajwa dan sumur air Zam-zam. Wallahu’allam

Kontributor: Fadh Ahmad Arifan*
Editor: Oki Aryono

*Alumnus Fakultas Syariah UIN Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here