Perlu Tahu, Begini Sebaiknya Orangtua Mengajarkan Adab

56
Beginilah Sebaiknya Orangtua Mengajarkan Adab kepada Anak

Suaramuslim.net – Seorang cendekiawan Muslim, Dr. Adian Husaini dalam tausyiahnya mengatakan bahwa lunturnya pendidikan adab untuk anak akan berakibat fatal. Ini harus menjadi perhatian tersendiri untuk para orangtua.

Menurutnya, masa depan pendidikan di Indonesia saat ini dinilai mengkhawatirkan. Bukan karena kualitas pendidikan yang menurun, tetapi pada orientasi pendidikan yang lebih mengarah pada tujuan keduniaan semata. Hal itu, salah satunya disebabkan oleh lunturnya adab yang dimiliki oleh anak-anak.

Ia menyampaikan bahwa persoalan adab berkaitan erat dengan peradaban manusia itu sendiri bukan sekadar diukur dari kemajuan teknologi.

Adian pun menghimbau kepada para orangtua agar persoalan adab ini tidak cukup diserahkan kepada sekolah semata. “Justru dari rumahlah adab ini dikenalkan. Orangtua harus mendidik adab kepada anak-anaknya. Jangan sampai adab saja tidak tahu,” ujarnya.

Menurut Adian ruang lingkup adab tak sekadar sopan santun, lebih jauh dari itu, yakni adab yang berbasis akidah. Adab ini, sambungnya, mengakui dan menghargai harkat dan martabat sesuatu sesuai yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, indikator beradabnya seseorang adalah ketika ia berprilaku sesuai dengan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya.

Ia mencontohkan dirinya sendiri yang ketika masih kecil orangtuanya telah mengajarkan adab kepadanya melalui kitab “Adabul Insan” sebagai landasan membangun akhlak terpuji.

Tips Jitu Ajarkan Adab pada Anak

Mengajarkan adab pada anak adalah tugas dan tanggung jawab setiap orangtua, mengajarkan adab bisa dimulai dari lingkungan yang terkecil, yaitu keluarga, lalu komunitas yang lebih besar seperti sekolah, dan terakhir di komunitas yang lebih luas lagi yaitu masyarakat.

Mengajarkan adab dalam keluarga adalah yang pertama. Hal itu, karena segala sesuatu dimulai dari keluarga. Pendidikan pertama seorang anak adalah keluarganya. Bagaimana orangtua memberinya teladan dan bagaimana saudara-saudara memperlakukannya. Keluargalah yang membentuk nilai baik-buruknya sesuatu.

Untuk mengajarkan adab pada si kecil, orangtua tak usah menggunakan banyak teori. Orangtua hanya perlu memberi teladan, tak perlu banyak berkata-kata. Hindari kata ‘jangan’. Karena kata ‘jangan’ justru menyetimulus anak untuk melakukan apa yang dilarang. Misalnya,  “Jangan main di luar sampai malam!”,  “Jangan makan sambil bicara!”  “Jangan membentak pada orangtua!,” “Jangan masuk rumah tanpa mengucap salam!,” dan banyak lagi.

Daripada memberi perintah negatif, berilah ajakan dalam kalimat positif. Contohnya dengan berkata, “Kalau main di rumah teman sampai sore saja ya,” “Ayo ucapkan salam dulu sebelum masuk rumah,” atau “Adik, jika bicara dengan orang yang lebih tua bicara mesti sopan dan lembut.”

Mengajarkan Adab di Sekolah

Ajarkan adab dalam lingkungan sekolah. Lingkungan kedua tempat anak belajar adalah sekolah. Di sana guru dan teman berperan lebih banyak bagi perkembangan akhlak anak. Untuk itu pilihlah sekolah yang baik dan dapat dipercaya untuk mendidik anak. Perlu diingat bahwa sekolah yang baik tidak sama dengan sekolah yang mahal.

Ajarkan juga anak tentang adab dalam menjalin hubungan pertemanan dan adab dengan guru. Bawakan anak bekal berlebih dan ajarkan ia untuk berbagi dengan temannya. Ajarkan anak untuk senantiasa mencium tangan gurunya ketika bertemu di luar sekolah. Bersilaturahmi dengan anak ke rumah gurunya juga adalah hal yang baik.

Semetara itu, sebagai orangtua, sebaiknya mengajarkan adab dalam lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat adalah ruang lingkup yang sangat luas. Ajarkan anak tentang norma yang berlaku dalam masyarakat, baik yang tersirat maupun tersurat.

Untuk yang tersurat, misalnya ajarkan anak adab dalam berlalu lintas. Biasakan mematuhi aturan lalu lintas ketika sedang berkendara bersama anak. Melihat contoh nyata akan lebih baik ketimbang sekadar mendengar nasihat. Ajarkan untuk memungut sampah bila melihatnya dan membuangnya di tempat sampah.

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir