Suaramuslim.net – Pernahkah kita mendengar ungkapan “uang tidak bisa membeli kebahagian!” atau “bekerja untuk mencari rezeki yang halal”, yang dikonotasikan dengan gaji. Bahkan ada seseorang yang sudah bekerja keras namun selalu mengeluh dengan berbagai macam alasan. Klise, tapi nyatanya kalimat itu dipatahkan dengan kenyataan yang ada. Diam-diam kita semua masih berharap memiliki gaji atau penghasilan yang lebih besar dari sekarang. Alasan apalagi kalau bukan kebutuhan yang rasanya tidak pernah memuaskan hasrat kita yang semakin lama justru semakin banyak keinginannya.

Kondisi seperti ini mungkin terjadi kepada teman kita, keluarga kita, atau bahkan diri kita sendiri. Sebenarnya apa yang membuat kita tidak bahagia pada pekerjaan dan merasa kurang terhadap penghasilan yang kita dapatkan? Lalu apa yang membuatnya senantiasa mengeluh? Bisa jadi itulah yang dinamakan ketidakberkahan, penghasilan besar atau cukup namun selalu merasa kurang. Apakah sama antara gaji dengan rezeki? Bisakah seseorang bergaji besar memiliki rezeki kecil? Atau sebaliknya bergaji kecil memiliki rezeki yang besar?

Mari kita lihat perbedaan gaji dan rezeki

Gaji adalah suatu bentuk balas jasa kompensasi atau penghargaan atas hasil kerja yang diberikan secara teratur dari pemberi kerja kepada pegawainya. Sedangkan rezeki adalah apa saja yang diperoleh manusia sebagai pemberian Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagai mana firman Allah dalam surat Az-Zariyat ayat 22-23, “Dan di langit ada (sebab-sebab) rezekimu, juga apa yang telah dijanjikan kepada kalian. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan”.

Berikut perbedaan antara gaji dan rezeki

  1. Gaji ada slip-nya, rezeki tidak ada
Baca Juga :  10 Kunci Pembuka Rezeki Allah

Pemberian gaji disertai dengan slip gaji, sedangkang rezeki tanpa slip karena pemberian Allah itu jumlahnya tidak terbatas, diberikan keselamatan, kesehatan atau ketentraman batin juga termasuk bagian dari rezeki. Gaji itu pun termasuk dalam kategori bagian dari rezeki.

  1. Gaji dari bos, rezeki dari Allah

Meskipun rezeki dan gaji sama-sama datang dari Allah, karena gaji termasuk bagian dari rezeki, namun kita dapat menduga melalui perantara siapa gaji itu diberikan kepada kita. sedangkan rezeki, kita tidak akan pernah dapat menduga datangnya darimana dan dalam bentuk apa, karena rezeki adalah kehendak Allah yang akan diberikan kepada hambanya.

  1. Gaji itu dijemput dengan kerja, rezeki dengan jalan takwa

Kita akan memperoleh gaji setelah kita bekerja selama sebulan, sedangkan untuk mendapatkan rezeki dari Allah, kita tidak harus bekerja, contohnya bayi yang baru lahir, walaupun ia tidak bekerja, namun tetap mendapatkan rezekinya.

  1. Gaji bisa diduga, rezeki itu seringya tidak terduga

Salah satu sifat rezeki yang harus kita yakini, yaitu rezeki sering datang dengan cara yang tidak di sangka-sangka sebelumnya dan melalui arah yang tidak kita duga. Berbeda degan gaji bulanan yang sudah pasti besaran dan tanggal berapa memperolehnya.

  1. Gaji itu hanya berupa uang, rezeki tidak hanya berupa uang
Baca Juga :  Ingin Tambah Penghasilan Keluarga? Coba 11 Usaha Sampingan Tanpa Modal Berikut!

Jika gaji hanya berupa uang, tapi rezeki bisa berbentuk apa saja. Bisa berupa keteguhan iman dan islam, keluarga yang sakinah, anak yang salih dan salihah, dapat hadiah haji atau umrah gratis dan lainya.

6. Rezeki tidak bisa dihitung dengan matematika manusia

Ada orang bergaji kecil sebenarnya besar rezekinya, darimana itu? Bagaimana bisa? “Jika seseorang bergaji 3 juta/bln saat masih single dan bergaji sama setelah menikah ditambah lagi dengan 1 orang istri dan 1 orang anak, apakah akan cukup? Biasanya cukup membeli kebutuhan makan, pakaian hanya 1 orang sementara sekarang harus membeli untuk jatah 3 orang. Ini adalah kalkulasi manusia yang serba terbatas. Pada kenyataanya gaji 3 juta bisa di pakai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, bayar rumah, bayar sekolah bahkan ditabung.” Misal, saat kita butuh uang tambaha, ada bonus dari kantor. Anak sakit gratis berobat karena kenal dengan dokter. Ikut program menabung, dapat undian haji atau umroh. Tanggal tua dan belum gajian tiba-tiba diberi makanan dari tetangga. Hal seperti diatas sering terjadi dalam kehidupan kita, tapi tidak pernah kita perhatikan. Kita hanya menganggap itu hal biasa. Padahal itulah cara Allah mencukupi rezeki kita dan keluarga.

Ada orang bergaji besar sebenarnya rezekinya kecil, darimana itu? Bagaimana bisa? “ ada orang yang gajinya 50 juta/bln, dengan gaji sebesar itu seharusnya dia bisa menikmati hidupnya. Namun itu semua belum tentu menjadi rezekinya, kenapa? Mau makan yang gurih-gurih kata dokter “Jangan pak, kolesterolnya”, mau makan asin-asin kata dokter, “Jangan pak, hipertensinya”, mau makan yang manis-manis kata dokter, “Jangan pak, diabetesnya”. Sebagian rezekinya sudah Allah ambil. Padahal dulu mau makan enak tidak mampu membeli, giliran sekarang mampu membeli tidak boleh sama dokter.

7. Rezeki mutlak urusannya Allah

Baca Juga :  Khasiat Dzikir kepada Allah

Rezeki itu jumlahnya tidak terbatas, apa saja pemberian Allah baik berupa materi atau non materi disebut rezeki, rezeki diberikan secara mutlak oleh Allah kepada siapapun, tapi bukan berarti menyampingkan ikhtiar manusia. bergaji besar tapi rezeki kecil atau bergaji kecil tapi rezeki besar bukan sesuatu yang tidak mungkin. Jika Allah ridha kepada seseorang tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.

Kontributor: Jefri Firmansyah, S.Psi

Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.