Seni apresiasi, ketika terima kasih menjadi energi organisasi ICMI

Suaramuslim.net – Ucapan terima kasih merupakan salah satu dari magic word yang sering kita ajarkan kepada anak-anak, tetapi kadang justru pelan-pelan hilang dari kebiasaan orang dewasa.

Dalam organisasi, kalimat sederhana ini bisa membuat seseorang merasa dilihat, dihargai, dan diakui. Di ICMI, banyak pengurus mungkin tidak meminta apa-apa. Mereka hanya ingin tahu bahwa kerja sunyinya tidak lewat begitu saja.

Pujian tentu bukan hal yang buruk. Setiap orang membutuhkan penghargaan, selama datangnya dari hati yang jernih. Yang perlu dijaga adalah ketika pujian berubah menjadi formalitas, bukan ketulusan. Sebab pujian yang tulus bisa menumbuhkan semangat, sedangkan pujian yang sekadar lewat sering tidak menyentuh apa-apa.

Karena itu, seni apresiasi bukan hanya soal memuji. Ia juga soal mengakui proses, menghargai niat baik, dan memberi tempat bagi kontribusi yang kadang tidak tampak di permukaan.

Dalam organisasi seperti ICMI, hal-hal seperti ini penting. Banyak kerja organisasi justru berlangsung diam-diam: menghubungi narasumber, menyiapkan acara, menyambung komunikasi, merawat jaringan, dan memastikan kegiatan tetap berjalan.

B. J. Habibie pernah mengatakan saat ICMI lahir di Malang tahun 1990, “Dengan berdirinya ICMI tidak berarti kita hanya memperhatikan umat Islam, tetapi mempunyai komitmen memperbaiki nasib seluruh bangsa Indonesia.”

Kalimat ini mengandung pesan besar tentang keluasan pandangan. ICMI sejak awal tidak dimaksudkan sebagai ruang yang sempit, tetapi sebagai wadah pengabdian para cendekiawan muslim untuk memberi manfaat bagi bangsa.

Dari teladan itu, ICMI dapat terus menjadi rumah apresiasi. Rumah tempat pujian, pengakuan, dan penghargaan berjalan bersama. Bukan hanya mengagumi hasil akhir, tetapi juga menghargai proses dan niat baik di balik setiap karya. Sebab organisasi yang besar tidak hanya dibangun oleh gagasan besar, tetapi juga oleh banyak kerja kecil yang dilakukan dengan setia.

Dalam teori Recognition dari Axel Honneth dalam The Struggle for Recognition (1995), pengakuan dipahami sebagai kebutuhan moral manusia.

Seseorang tidak hanya ingin hadir secara fisik, tetapi juga ingin diakui martabat, peran, dan kontribusinya. Tanpa pengakuan, seseorang bisa merasa kehilangan makna sosialnya. Di sinilah organisasi perlu menjaga rohnya: tidak hanya mencatat kehadiran, tetapi juga merasakan suasana hati yang ikut hadir di dalamnya.

Pujian, pengakuan dan penghargaan

Kadang kita mencampuradukkan pujian, pengakuan, dan penghargaan. Padahal ketiganya punya rasa yang berbeda.

Pujian membuat orang senang, pengakuan membuat orang merasa berarti, sementara penghargaan membuat orang diingat dan dihormati. Pujian biasanya dekat dengan hasil, pengakuan dekat dengan proses, dan penghargaan dekat dengan nilai yang ditinggalkan.

Di ICMI, ketiganya perlu berjalan bersama. Namun kuncinya tetap satu: ketulusan. Tanpa ketulusan, apresiasi bisa kehilangan makna dan tinggal menjadi formalitas. Sebaliknya, dengan ketulusan, ucapan sederhana bisa menjadi energi yang membuat orang ingin terus bergerak.

Dalam esainya tentang ICMI, Dawam Rahardjo melihat ICMI bukan sekadar kumpulan cendekia, tetapi juga wadah kesadaran—tempat umat Islam saling mengenali dan saling menguatkan dalam semangat keindonesiaan (Rahardjo, 1993).

Gagasan ini penting karena organisasi cendekia tidak cukup hanya kuat secara struktur. Ia juga perlu hangat secara hubungan.

Kalau memakai istilah Denise Rousseau dalam Psychological Contracts in Organizations (1995), hubungan antara organisasi dan anggotanya tidak hanya bersifat formal. Ada kontrak psikologis yang tidak tertulis: rasa dipercaya, dihargai, dan dianggap penting.

Ketika hubungan batin itu kuat, orang lebih mudah bertahan dan memberi kontribusi. Sebaliknya, ketika hubungan itu melemah, semangat bisa ikut meredup pelan-pelan.

Peneliti klasik Elton Mayo, melalui kajian yang kemudian dikenal luas sebagai Hawthorne Studies dan dibahas dalam The Human Problems of an Industrial Civilization (1933), menunjukkan bahwa perhatian terhadap pekerja dapat memengaruhi semangat dan produktivitas.

Ada pelajaran sederhana di sana: manusia bekerja bukan hanya karena aturan dan target, tetapi juga karena merasa diperhatikan. Dalam konteks ICMI, perhatian kecil bisa melengkapi banyak forum pembelajaran, webinar, dan pelatihan. Ilmu menggerakkan pikiran, tetapi apresiasi yang tulus ikut menggerakkan hati.

Pengakuan tidak harus selalu berbentuk penghargaan besar. Ia bisa sesederhana memberi ruang bicara, mendengarkan ide dengan sungguh-sungguh, atau mencatat nama penggagas dalam laporan kegiatan.

Hal kecil seperti ini sering tampak biasa, tetapi bagi orang yang bekerja dalam diam, ia bisa menjadi tanda bahwa usahanya tidak hilang begitu saja.

Dalam Positive Organizational Scholarship: Foundations of a New Discipline (2003), Kim Cameron, Jane Dutton, dan Robert Quinn menjelaskan bahwa organisasi positif tumbuh dari energi yang saling menguatkan. Apresiasi adalah salah satu bentuk energi itu. Ia membuat ruang kerja lebih manusiawi. Bahkan rapat yang panjang pun terasa lebih ringan ketika orang-orang di dalamnya saling menghargai.

Tantangannya, budaya apresiasi kadang belum sekuat budaya rapat, struktur, dan evaluasi. Kita sering lebih cepat membahas kekurangan daripada menyebut kebaikan yang sudah berjalan.

Padahal apresiasi juga bagian dari evaluasi, hanya bahasanya lebih lembut. Ia tidak membuat orang defensif, tetapi justru membuka hati untuk belajar dan memperbaiki diri.

ICMI bisa mulai membangun budaya apresiasi dari langkah kecil. Misalnya, di setiap rapat ada pertanyaan sederhana: “Siapa yang ingin kita apresiasi pekan ini?” Pertanyaan seperti ini tidak membutuhkan anggaran besar. Tetapi bila dilakukan dengan tulus, ia bisa mengubah suasana rapat dari sekadar forum laporan menjadi ruang yang lebih hangat.

Bayangkan kalau setiap orda atau orsat menulis cerita singkat tentang satu anggota yang telah berkarya. Bukan laporan kegiatan yang kaku, tetapi kisah manusia di balik sebuah ikhtiar. Nama-nama itu akan menjadi bagian dari sejarah kecil ICMI. Karena di balik setiap ide besar, hampir selalu ada hati yang bekerja dalam diam.

Apresiasi sebagai zikir sosial

Dalam Islam, pengakuan dan apresiasi bukan hal baru. Ia bagian dari akhlaq jama’iyah, akhlak sosial yang menjaga hubungan antaranggota masyarakat. Karena itu, ICMI dapat menguatkan Etika Pengakuan Islami dalam budaya organisasinya. Prinsipnya sederhana: ta’aruf atau saling mengenal, ta’awun atau saling menolong, dan tasamuh atau saling menghargai.

Ta’aruf membuat kita tidak hanya mengenal nama, tetapi juga memahami peran dan perjuangan orang lain.

Ta’awun membuat apresiasi tidak berhenti pada kata-kata, tetapi berlanjut menjadi dukungan.

Tasamuh membuat perbedaan pandangan tidak berubah menjadi jarak. Ketiganya bisa menjadi dasar budaya apresiasi yang Islami, manusiawi, dan sesuai dengan ruh ICMI.

Kalau nilai-nilai ini hidup di setiap orsat, orda, dan orwil, ICMI akan memiliki budaya yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berjiwa. Rapat tidak sekadar menjadi tempat menyampaikan agenda, tetapi juga ruang untuk saling mendengar.

Diskusi tidak berhenti pada adu pendapat, tetapi bergerak menjadi adu gagasan yang saling menguatkan.

Yudi Latif dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa (2012) banyak membahas peran kaum inteligensia muslim dalam membangun kesadaran, kebangsaan, dan tanggung jawab sosial.

Dari gagasan itu, kita bisa belajar bahwa gerakan cendekia pada dasarnya adalah latihan untuk memuliakan pikiran. Memuliakan pikiran orang lain berarti memberi ruang bagi pendapatnya, mendengarkan dengan hormat, dan menghargai yang disampaikan.

Di sinilah ICMI bisa terus memberi teladan. Kecendekiawanan tidak hanya diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara, tetapi juga seberapa dalam ia mendengarkan.

Dalam mendengarkan, ada kerendahan hati. Dalam kerendahan hati, pengetahuan baru sering menemukan jalan untuk tumbuh.

Pada akhirnya, semua teori, strategi, dan konsep apresiasi ini bermuara pada satu ajaran sederhana dari Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
(Terjema hadis riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad).

Hadis ini seperti cermin bagi setiap pengurus ICMI. Menghargai sesama bukan sekadar etika organisasi, tetapi bagian dari ibadah.

Saat kita mengucapkan terima kasih dengan tulus, sejatinya kita sedang menunaikan syukur kepada Allah atas nikmat persaudaraan dan kebersamaan. Apresiasi bukan pujian kosong, tetapi bentuk zikir sosial bahwa kebaikan tidak pernah lahir sendirian.

Mungkin itulah salah satu rahasia keberkahan sebuah organisasi: bukan hanya pada banyaknya program, tetapi juga pada kehangatan hati di antara orang-orangnya. Sebab ketika pengurus saling menghargai dan saling menghormati, Allah menambahkan keberkahan pada langkah mereka.

Dan ICMI akan tetap hidup sepanjang para cendekia di dalamnya masih tahu cara paling mulia untuk bersyukur—yakni dengan saling mengakui dan menumbuhkan satu sama lain.

Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.