Utamakan akhirat, jangan lupakan dunia

Suaramuslim.net  – Ada kelompok masyarakat beriman dari kaumnya Nabi Musa yang memberikan nasihat indah kepada sosok miliarder yang bernama Qarun (sepupu nabi Musa).

Nasihat itu diabadikan di dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat 77.

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Terkadang sebagian orang agak salah menerjemahkan ayat ini dengan terjemahan “carilah kehidupan akhirat dan jangan lupakan dunia”. Terjemahan ini terlalu menyederhanakan.

Mari kita kembali kepada tafsirnya. Dari ayat ini terjemahannya semestinya seperti ini;

Dan carilah -pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (dunia)-  (kebahagian) negeri akhirat.

Catatan tafsir ayat 77 surat Al-Qashash

Dalam pandangan Islam kehidupan duniawi dan ukhrawi merupakan satu kesatuan

Dunia adalah tempat untuk menanam dan akhirat adalah tempat untuk panen. Sehingga apa yang ditanam di dunia akan memperoleh buahnya nanti di sana.

Menurut Prof. Quraisy Shihab, Islam tidak mengenal istilah amal dunia dan amal akhirat. Karena di sebagian masyarakat diklasifikasikan bahwa shalat, puasa, haji itu amal akhirat sedangkan berbisnis, bermain dengan keluarga itu amal duniawi.

Padahal semua amal dapat menjadi amal dunia -walau shalat dan sedekah- bila ia tidak tulus.

Dan semua amal dapat menjadi amal akhirat jika ia disertai dengan keimanan dan ketulusan demi untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekalipun amal itu adalah pemenuhan naluri seks kepada pasangan yang halal.

Lihatlah sabda Nabi Muhammad, dari Abu Dzar Al-Ghifari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ »

Hubungan badan antara kalian (dengan istri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasul, ‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.’

Demikian pula Q.S. Al-Baqarah ayat 187 ada perintah di malam bulan Ramadhan untuk mencari keberkahan dengan menggauli istri.

فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ

Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu.

Ayat ini memberikan nasihat bahwa pentingnya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dan dunia menjadi sarana untuk mencapai tujuan akhirat

Mencari kebahagiaan akhirat adalah tujuan yang digapai secara sungguh-sungguh. Sedangkan menyangkut kebahagian duniawi sekadar tidak boleh dilupakan!! Karena ia sarana bukan tujuan. Sarana tidak boleh diabaikan!

Banyak ayat yang berbicara tentang kebahagiaan akhirat adalah yang utama sebagai tujuan. Seperti;

Q.S. Al-A’la ayat 17

وَٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ

Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Q.S. Al-Lail ayat 13

وَاِنَّ لَنَا لَلْاٰخِرَةَ وَالْاُوْلٰىۗ

Sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia.

Q.S. Ad-Dhuha ayat 4

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ

Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia).

Serta perhatikan hadis Nabi Muhammad tentang orang yang cerdas

الْكَيْسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang cerdas adalah yang bermuhasabah atas dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian. Orang lemah adalah siapa saja yang dirinya mengikuti hawa nafsunya lalu ia berangan-angan terhadap Allah. (Riwayat Ahmad).

So, bahwa duniawi dan akhirat harus seimbang sepertinya tidak juga, karena akhirat harus diutamakan dari kepentingan duniawi jika terjadi harus memilih. Apalagi dunia itu bukan tujuan hanya sarana yang tidak boleh diabaikan.

Bagaimana cara menggunakan dunia sebagai sarana meraih kebahagiaan akhirat? Bisa dilihat dari lanjutan ayat itu

a. Dengan cara wa ahsin kama ahsanalloh ilaik. Berbuat yang terbaik terkait harta itu kepada diri dan manusia lainnya. Dengan infak untuk diri dan keluarga serta kepada kerabat yang membutuhkannya baik itu yang bersifat sunah maupun yang wajib seperti zakat.

b. Wala tabghil fasada fil ardh. Jangan melakukan kerusakan di muka bumi dengan harta itu.

Maka selama dua hal di atas itu dijadikan landasan untuk meraih kebahagiaan kehidupan akhirat maka itulah jalan yang diridhai Allah.

Dan jalan tersebut yang ditempuh sebagian besar sahabat sahabat Nabi Muhammad, mereka secara finansial sudah masuk kategori miliarder bahkan ada yang triliuner namun mereka tetap mendahulukan akhirat dengan selalu bersedekah dan berbuat kebaikan melalui harta yang dimilikinya.

Di antara mereka adalah;

Abdurrahman bin Auf, konglomerat Islam di zaman Nabi, yang selalu bersedekah untuk kepentingan Islam.

Beliau pernah menyumbang untuk biaya perang Tabuk sebanyak 200 uqiyah emas. Untuk diketahui 1 uqiyah emas senilai 31,7475 gram emas, atau setara dengan 7,4 dinar emas. Jika harga 1 dinar emas sekarang (2,9 jt x 4,25 gr mas) adalah sebesar Rp12,3 jt, berarti 200 uqiyah itu nilainya setara Rp1,8 T!

Beliau menyantuni veteran perang Badar yang masih hidup sebesar 400 dinar/orang, untuk 100 orang, itu berarti 40 ribu dinar, yang setara dengan Rp49,2 T. Banyak lagi sedekah Abdurrahman bin Auf yang tercatat dalam sejarah.

Namun demikian ketika beliau wafat (32 H/652 M), dan sebelum wafatnya pada usia 72 tahun, beliau masih meninggalkan harta kekayaan yang sangat banyak: 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing, dan setiap istrinya mendapatkan warisan 80.000 dinar. Padahal, warisan untuk setiap istrinya hanya 1/4 dari 1/8 bagian. Sesuai syari’at Islam, istri mendapatkan bagian 1/8 karena ada anak, lalu 1/8 ini dibagi 4 karena ada 4 istri.

Kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman saat itu berjumlah 2.560.000 dinar, atau setara dengan Rp4 triliun. (1 dinar setara dengan 4,25 gram emas = 2.560.000 x 4,25 gram x Rp. 2,9 juta = sekitar 3,14 B. (Dr. M. Syafii Antonio).

Utsman bin Affan

Dalam sebuah riwayat beliau juga ikut menyumbang untuk perang Tabuk. Dana yang disumbangkan 1.000 dinar, 1.000 onta, dan 70 ekor kuda.

Membeli sumur Raumah dari Yahudi, atas tawaran Nabi Muhammad. Maka Sayidina Utsman pun membeli sumur Raumah itu, tapi Yahudi memberi sarat, mau menjual sumur itu kepada Utsman seharga 12.000 dirham dengan kepemilikan bersama dengan Yahudi. Yaitu sehari milik Utsman sehari berikutnya milik Yahudi.

Pada hari milik Utsman, beliau mempersilahkan masyarakat mengambil air. Masyarakat Madinah mengambil air sebanyak-banyaknya untuk persediaan hari berikutnya. Maka sudah dipastikan hari sumur milik Yahudi jadi sepi. Akhirnya Yahudi itu mendatangi Utsman dan menjual kepemilikan itu secara penuh seharga 8.000 dirham.

Ubaidillah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Sayidina Utsman masih memiliki harta, yaitu: 30.500.000 dirham (setara dengan Rp2,05875 Triliun) dan 100.000 dinar (setara dengan Rp1,23 T).

Abu Bakar menyerahkan semua hartanya dalam perang Tabuk. Umar menyerahkan setengah hartanya. Wallahu a’lam.

M Junaidi Sahal
Disampaikan di Radio Suara Muslim Surabaya
2 April 2026/13 syawwal 1447 H

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.