Banyak Anak, Banyak Rezeki?

Banyak Anak, Banyak Rezeki?

Ilustrasi Ayah dan Anak. (Ils: Ana Fantofani)
Ilustrasi Ayah dan Anak. (Ils: Ana Fantofani)

Suaramuslim.net – Istilah ‘banyak anak banyak rezeki’ mungkin bagi sebagian orang dinilai sebagai anggapan kuno yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal menurut pandangan Islam, membatasi jumlah kelahiran dengan alasan takut miskin ternyata jauh lebih kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Isra’ ayat 31:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (Q.S. Al-Isra’ : 31)

Soal rezeki dan nafkah adalah keyakinan dan prasangka kepada Allah. Barang siapa yang menyangka bahwa Allah akan menyempitkan rezekinya dengan banyak anak, jadilah apa yang disangkanya. Dia menyikapi kelahiran setiap anak sebagai beban merepotkan yang disesali. Seterusnya dalam perkembangan jiwanya anak disikapi secara negatif, ditumpulkan kreatifitasnya, dibentak hingga mati inisiatifnya, disalah-salahkan hingga rendah diri. Jadilah anak benar-benar beban, bukan kebanggaan, padahal sebenarnya ia berpotensi besar.

Sebaliknya, orang-orag yang memandang kelahiran anak secara positif, juga akan memperlakukan anak-anaknya secara positif. Penuh penerimaan, penuh kesabaran, penuh kebanggaan. Maka anak terbantu membentuk citra diri yang positif. Ia memandang dirinya secara positif dan bertindak dengan penuh dukungan yang bertanggung jawab. Suasananya kondusif untuk berprestasi dan mengaktualisasi diri. Maka, anak benar-benar rezeki yang agung.

Kelak anak-anak qurrata a’yun, menjadi penyejuk mata. Maka secara psikologis orang tuanya juga terdukung untuk bersemangat, ikhlas dan berikhtiar keras hingga terbukalah pintu-pintu rezeki. Umar bin Khatab berkata, “Perbanyaklah anak, karena kalian tidak tahu dari anak mana pintu rezeki akan terbuka lebar.”

Keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap anak yang terlahir ke dunia harus senantiasa melekat di hati. Tugas orang tua adalah menjemput rezeki tersebut dengan sikap positif dan keyakinan sempurna. Ingat, bukan orang tua yang menjamin rezeki anak-anaknya, tapi Allah. Orang tua hanyalah perantara bukan tempat bergatung dalam urusan rezeki.

Memang terkadang ada banyak kendala dan persoalan yang menghadang. Namun kita harus senantiasa ingat akan janji Allah berupa pahala yang akan kita tuai kelak di akhirat, saat kita merawat anak-anak sejak dari kandungan hingga mereka dewasa. Dan masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi semoga dapat menambah saldo pahala dan sarana penghapus dosa.

Para ahli iman bersemangat memiliki anak dan mendidik anak-anaknya. Sedang ahli kekufuran bersemangat untuk mengaborsi generasi penerusnya. Karena Rasul pun kelak akan membanggakan umatnya yang memiliki banyak generasi yang salih-salihah. Agar peran sebagai khalifah di muka bumi ini dapat dioptimalkan dengan sebaik-baiknya.

“Dan sungguh Telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi Ini dipusakai hamba-hambaKu yang salih.” (QS al-Anbiya’ :105)

Wallahu a’lam Bishawab.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment