Siapa Sajakah yang Menjadi Tetangga Rasulullah saw

Siapa Sajakah yang Menjadi Tetangga Rasulullah SAW

Suaramuslim.net – Tetangga adalah orang yang tinggal berdekatan dengan rumah kita. Ia merupakan salah satu indikator kebahagiaan seorang Muslim. “Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal yang termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang jelek, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban).

Dilihat dari sejarahnya, agama Islam sangat memperhatikan untuk menghormati hak-hak tetangga, baik sesama muslim maupun non muslim. Seperti Abdullah bin Umar memberikan sebagian kambing yang disembelihnya kepada tetangga non /muslim (Salabiah, Hadis Etika Bertetangga Sesama Muslim dan Nonmuslim, 2015, hal 91).

-Advertisement-

Masih terkait judul artikel ini, jika diajukan pertanyaan, “Siapa saja yang menjadi tetangga Rasulullah saw saat di Mekkah dan Madinah?”. Sebetulnya mudah mengetahui siapa saja yang pernah menjadi tetangga Rasulullah saw. Abu bakar, Umar bin khattab, Usman bin affan dan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat dekat beliau yang tempat tinggalnya berdekatan. Ibaratnya, semua nama-nama yang saya sebutkan itu berdomisili dalam lingkup satu Rukun warga (RW). Selain beliau berempat, paman Rasulullah yang namanya diabadikan dalam sebuah surah dalam Al Quran yakni Abu Lahab adalah tetangga Rasulullah saw.

Ibnu Ishaq berkata: “Orang-orang Quraisy yang suka mengusik Rasulullah saw di rumah beliau ialah Abu Lahab, Al-Hakam bin Al-Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abu Mu’aith, Adi bin Hamra’ Ats-Tsaqafi dan Ibnu Al-Ashda’ Al-Hudzali. Mereka adalah tetangga Rasulullah saw. Di antara mereka, yang masuk Islam hanyalah Al-Hakam bin Abu Al-Ash” (Sirah nabawiyah: Sejarah lengkap kehidupan Rasulullah, Penerbit Akbar media, 2012, E-book diunduh dari scribd.com, hal 258).

Arqam bin Abu al-Arqam termasuk tetangganya Rasulullah saw. Saat dakwah Rasulullah di Mekkah masih bersifat sembunyi-sembunyi, rumah al-Arqam yang terletak di kaki bukit Shafa dekat Masjidil Haram dipilih Rasulullah saw sebagai tempat untuk mengajar agama Islam. Di rumah al-Arqam inilah Umar bin khattab menyatakan diri untuk memeluk Islam, pada tahun ke enam dari kenabian. Dan begitu Umar masuk Islam, orang-orang Islam yang selama ini bersembunyi di rumah al-Arqam serentak keluar dan membaca takbir, kemudian berjalan menuju Ka’bah untuk beribadah tanpa rasa takut sedikitpun. (Akrom khasani, Metode dakwah Nabi Muhammad SAW di tengah pluralitas masyarakat Madinah, 2014, hal 99).

Sepupu Siti Khadijah, Waraqah bin Naufal adalah tetangga Rasulullah saw. Ia adalah seorang penganut Nasrani. Dikenal sebagai sosok yang anti dengan miras, mendalami Taurat dan injil. Wafat di awal kenabian Rasulullah dalam keadaan usia tua dan buta (H. Fuad Hashem, Sirah muhammad Rasulullah Kurun makkah : Suatu Penafsiran Baru, Penerbit Mizan, 1995, hal 123).

Sewaktu Khadijah dicurhati oleh Rasulullah saw tentang peristiwa di Gua Hira’, Siti Khadijah menemui Waraqah. Waraqah berkata, “Quddus, Quddus! Demi dzat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya, jika engkau mempercayaiku, wahai Kahdijah! Sungguh Jibril telah datang padanya sebagaimana Allah menurunkannya kepada Musa. Dan sungguh ia merupakan Nabi umat ini.” (Prof. Dr. Abdurrahman Umairah, Taman-Taman Cinta Kisah-Kisah Kekasih Hati Nabi SAW Penuh Hikmah dan Kesejukan, Mirqat, 2008, hal 14-15)

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah saw bertetangga dengan Ahli suffah yang menetap di area Masjid Nabawi. Jika mempelajari sejarah kemunculan Tasawuf, pasti akan mendapati kisah kelompok ini. Abu Hurairah adalah tokoh sentral dari Ahli suffah. Sahabat Rasul yang paling banyak meriwayatkan hadis itu menjadi semacam penghubung antara Rasulullah dan Ahli Suffah bila Rasul bermaksud mengundang mereka (M. Quraish shihab, Membaca sirah Nabi Muhammad saw, 2012, hal 609-610).

Orang-orang pada masa jahiliyah memanggil Abu Hurairah dengan Abdu Syamsin (Hamba Matahari). Begitu Allah Swt memuliakan dirinya dengan Islam dan bertemu dengan Nabi Saw yang bertanya kepadanya: “Siapa namamu?” Ia menjawab: “Nama saya adalah Abdu Syamsin.” Lalu Rasulullah Saw bersabda: “Bukan. Namamu sekarang adalah Abdurrahman.” Ia membalas: “Baik. Namaku mulai sekarang adalah Abdurrahman. Demi ibu dan ayahku, ya Rasulullah!” Sedangkan ia dijuluki dengan nama Abu Hurairah (bapak kucing), karena saat ia masih kecil ia memiliki seekor kucing kecil yang selalu bermain dengannya. (Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, Kisah heroik 65 Sahabat Rasulullah saw, 2008, hal 371).

Bilal bin rabah dan Mu’adz bin jabal tidak boleh kita lewatkan sebagai tetangga Rasulullah saw di Madinah. Beliau berdua tinggal dan menetap di dekat Masjid Nabawi. Bilal menjadi muadzin dan senantiasa bersama Rasulullah dalam perjuangan menegakkan agama islam. Sementara Mu’adz bin jabal adalah penduduk asli Madinah. Beliau adalah tokoh terkemuka dari kaum Anshar. Masuk Islam dalam usia masih muda. (Drs. Muhsin M.K, Bertetangga dan Bermasyarakat Dalam Islam, 2004, hal 92-94). Mu’adz bersama Abu Musa al-Asy’ari juga pernah ditugaskan ke Yaman.

Di Madinah, Rasulullah pernah bertetangga dengan seorang Yahudi. Buktinya beliau bermuamalah dengannya dan sampai menggadaikan baju perangnya. Dari Aisyah, beliau berkata : “Rasulullah wafat, sedangkan baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum”. Mengutip artikel Ustadz Abu Nasim Muktar dalam Majalah Asy-Syariah edisi 81, Satu sha’ terdiri dari empat mud. Adapun satu mud seukuran empat kali dua telapak tangan. Di dalam Musnad asy-Syafi’i disebutkan bahwa kuniah orang Yahudi itu adalah Abus Syahmah.

Demikianlah artikel saya tentang orang-orang yang bertetangga dengan Rasulullah di Makkah dan Madinah. Sepanjang hidupnya, beliau dikelilingi sahabat-sahabat yang setia mendukung misi dakwahnya. Disamping itu ada yang menghambat dakwah beliau seperti Abu Lahab dan Abu Jahal. Tentu saja masih banyak tokoh atau sosok yang belum diulas di sini. Mudah-mudahan ada penulis lain yang akan menyempurnakannya. Wallahu’allam.

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
*Penulis adalah Alumnus Studi ilmu Agama Islam di Pascasarjana UIN Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here