Meneladani Kepemimpinan Utsman bin Affan

215
utsman bin affan

Suaramuslim.net – Tak hanya istimewa karena menjadi satu-satunya sahabat yang diberi gelar Dzun Nurain, kedermawanannya sangat luar biasa. Sahabat Rasulullah yang satu ini juga memiliki sisi kepemimpinan yang patut diteladani oleh para pemimpin muslim. Utsman bin Affan.

Masih berbicara tentang sahabat Rasulullah yang sangat istimewa. Utsman bin Affan, yang memiliki banyak sekali keistimewaan di dalam dirinya. Mulai dari sisi peribadatannya pada Allah subhanahu wa ta’ala hingga pengasihannya kepada sesama muslim kala itu.

Keistimewaan Utsman bin Affan tak berhenti pada itu saja, kepemimpinan Utsman bin Affan saat menjadi khalifah pada saat itu pun dapat menjadi teladan. Bagaimana kepemimpinan Utsman bin Affan saat menjadi khalifah?

Kepemimpinan bukanlah perkara ringan sebagaimana anggapan sementara sebagian orang. Bahkan kepemimpinan merupakan suatu tanggung jawab besar yang hanya bisa dibawa oleh orang-orang tangguh yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri sebelum datangnya hari saat ia ditunjuk sebagai pemimpin umat.

Tampuk kepemimpinan juga tidak bisa diberikan pada sembarang orang dan tidak pula bisa diwariskan turun temurun kecuali jika keriteria yang menerima sudah dipandang cukup dan matang.

Pada umumnya, orang yang diberi kursi kepemimpinan sebuah negeri tidak lain merupakan orang yang paling hebat dan mulia di zamannya sehingga secara umum tidak ada yang lebih berhak menerima tanggung jawab besar ini kecuali dirinya. Demikian ini merupakan corak kepemimpinan Khulafa’ Rasyidin.

Utsman Bin Affan Memimpin Berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah

Utsman menjadikan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai pijakan kemudian apa saja yang telah digariskan dan diwariskan oleh dua khalifah pendahulunya, Abu Bakar dan Umar bin khattab sebagai landasan kepemimpinannya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengungkapkan sebagaimana yang ditengahkan At-Tirmidzi dan dinilai shahih oleh Al-Albani, “Ikutilah dua orang sepeninggalanku,” seraya menunjuk Abu Bakar dan ‘Umar. Metode kepemimpinan ‘Utsman ini juga sudah beliau sampaikan di awal khutbah kepemimpinannya, yaitu dengan menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman kemudian petunjuk dua khalifah yang mendahuluinya.

Dalam sebuah kaidah kepemimpinan yang masyhur, terdapat sebuah ungkapan, “Mulailah dengan apa yang sudah dilakukan orang-orang terdahulu. Jangan memulai dari apa yang telah dimulai orang-orang terdahulu.”

Artinya, ketika memimpin atau aktifitas lainnya hendaknya dilakukan dengan  meneruskan apa yang sudah dilakukan orang-orang terdahulu, bukan malah memulai sebagaimana orang-orang terdahulu memulai. Utsman bin Affan adalah salah satu khalifah yang belajar dari kepimpinan terdahulu.

Tak hanya itu, dari sekian banyak corak kepemimpinan ‘Utsman bin ‘Affan ialah perhatiannya terhadap keadaan orang-orang yang dipimpinnya. Keadaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan, terutama dalam menjalin hubungan antara diri seorang hamba dengan Rabb-nya dengan selalu memperhatikan batasan-batasan yang telah digariskan-Nya dan tidak melampauinya.

Dengan demikian, kehidupan akan berjalan lurus dan kejayaan akan dapat dengan mudah digapai.

Utsman Bin Affan, Khalifah yang Penuh Kelembutan

Utsman bin Affan merupakan khalifah terpilih setelah Umar bin Khattab. Sebelum Umar bin Khattab wafat, beliau sudah mengumpulkan tim syuro yang berjumlah 6 orang. Kemudian mengerucut menjadi 3 orang untuk memusyawarahkan siapa khalifah selanjutnya. Umat muslim menunjuk Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi khalifah selanjutnya.

Utsman bin Affan sebagai khalifah memerintah dengan penuh kelembutan dan bijaksana kecuali terhadap hal-hal yang mengharuskannya menegakkan hukum. Di masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, wilayah umat islam berkembang dan meluas hingga ke wilayah timur dan barat. Mulai dari Sind di sebelah timur, Afrika dan pulau-pulau Mediteranian di sebelah barat, Kaukasus di sebelah utara dan Habasyah di sebelah timur.

Pada masa pemerintahan, Utsman bin Affan menuai berbagai keberhasilan dan kejayaan, yang ditandai dengan perluasan wilayah kekuasaan Islam, pengukuhan angkatan laut pertama tentara Islam, penyeragaman penulisan Al Qur’an. Ia juga menyedekahkan hartanya sejumlah 20.000 dirham, untuk keperluan Masjid Nabawi kala itu.

Kontributor: Mufatihatul Islam
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here