Ustadz Adi Hidayat Tak Seperti Kuntowijoyo
Ustadz Adi Hidayat (Foto: AkhyarTV)

Suaramuslim.net – Menyimak channel TVMu (8 Juli 2018), ada siaran pengajian Ustadz Adi hidayat Lc. Pengajian ini berlangsung di auditorium KH. Ahmad Dahlan, Menteng, Jakarta. “Sewaktu ada bom Thamrin, saya di Lampung. Ditanya jamaah, apakah itu jihad?“. Langsung beliau jawab, “Jihad itu di jalan Allah, bukan di jalan Thamrin“. Peserta pengajian tertawa mendengar jawabannya.

Nasihat yang tak kalah penting adalah, “Ketika Anda punya KTA Muhammadiyah, buktikan Anda berkomitmen menjunjung tinggi sifat-sifat yang terlekat pada Rasulullah saw“. Begitu naseihat mubaligh jebolan Islamic Call College di Tripoli, Libya.

Wawasan mubaligh yang tak masuk daftar 200 Mubaligh rekomendasi Kemenag ini bukan cuma Tarikh (sejarah), Ulumul Quran dan Ulumul Hadits, beliau juga paham perkembangan dunia Sepak bola. Walau mengaku tidak pernah menonton langsung pertandingan piala Dunia. Barangkali cukup menonton siaran ulang gol-gol yang berhasil diraih kedua tim yang berlaga.

Di berbagai pengajiannya, beliau mampu menyebutkan judul kitab, di halaman berapa beserta posisi paragrafnya. Bukan pamer, tapi menunjukkan ke hati-hatian. Jarang sekali ada mubaligh muda yang mensyiarkan islam berbasis literatur yang kuat. Rata-rata mubaligh masa kini gaya ceramahnya monoton, mudah membid’ahkan dan terkadang banyak melucu. Saking lucunya, seorang mubaligh tak ubahnya seorang komedian.

Jika dicermati lebih dalam, isi pengajian ustadz Adi Hidayat, ustadz Shomad maupun mubaligh-mubaligh muda lainnya yang sedang naik daun di Youtube, IG dan Facebook tidak menyuguhkan wacana, gagasan atau teori pemikiran Islam yang baru seperti “Tasawuf Modern” ala Buya Hamka, “Objektifikasi Islam” yang digagas oleh Dr. Kuntowijoyo, “Fikih Sosial” Prof KH. Ali Yafie atau konsep “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” Prof. Syed Naquib Al Attas.

Jadi siapa pun tidak perlu memandang sinis terhadap kiprah mereka. “Ustadz apa itu… isi pengajiannya dangkal”. Harap diingat, sasaran dakwah mereka adalah generasi muda yang gila kuota internet dan generasi tua yang tidak sempat bisa bertatap muka langsung. Saya beri contoh ibunda dan bibi saya. Usianya diatas 50 tahun. Mereka berdua rutin menyimak pengajian ustadz Adi dan ustadz Abdul Shomad.

Adapun ayahanda saya, hanya sesekali. Lebih suka pengajian Prof. Dr. Quraish shihab di Metro TV dan Prof. Dr. Ahmad zahro M.A. yang disiarkan oleh stasiun JTV. Sekali lagi perlu ditegaskan, mengajilah dimana pun dan kapan pun asalkan isinya mudah dipahami dan tidak liberal. Wallahu’allam.

Kontributor: Fadh Ahmad Arifan*
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.