Inspirasi Belajar dari Abdullah bin Abbas

Suaramuslim.net – Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Ibnu Majah, bahwa menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (HR. Ibnu Majah. Dishahihkan oleh syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).

Secara tegas dan jelas, hadits ini bersifat menyeluruh bagi setiap muslim, tanpa terkecuali. Diwajibkannya umat muslim untuk menuntut ilmu bukan tanpa alasan, sebab Allah dan Rasulnya ingin menjadikan umat ini menjadi cerdas, maju, dan semakin bertakwa kepada-Nya.

Para penuntut ilmu tentu akan mendapat keutamaan di sisi Allah. Kemuliaan bagi orang-orang yang berjuang dalam menuntut ilmu dikatakan oleh Allah dalam Surat Al Mujadilah ayat 11 yang berbunyi, “….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Keistimewaan para penuntut ilmu juga semakin diperjelas oleh Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”(HR. Muslim)

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita istiqomah dalam mencari ilmu, khususnya Ilmu Agama. Dalam menuntut ilmu, seorang muslim juga harus memperhatikan adab dalam menuntut ilmu. Terdapat kisah menarik yang dapat kita jadikan teladan dalam mencari ilmu. Kisah ini berasal dari Abdullah bin Abbas yang merupakan keponakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mencari dan mempelajari ilmu. Dikisahkan Abdullah bin Abbas bercerita “setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku berkata kepada seorang Anshar, ‘Nabi telah meninggalkan kita, tetapi masih banyak sahabat yang hidup diantara kita. Mari kita temui mereka untuk bertanya dan menghafalkan kembali urusan agama.” Namun sahabat Anshar tidak bersedia atas ajakan Abdullah bin Abbas.

Baca Juga :  12 Butir Adab Seorang Guru

Lalu Abdullah bin Abbas berkata, “Dan kebanyakan ilmu yang aku dapatkan adalah dari kaum Anshar, dan aku akan menjumpai beberapa orang sahabat dan menanyakannya. Jika ku dengar mereka sedang tidur di rumahnya, maka aku akan menghamparkan kain untuk duduk sambil menunggu di depan rumahnya, sehingga mukaku penuh dengan debu, dan tubuhku sangat kotor. Setelah ia bangun, aku bertanya kepadanya mengenai masalah yang terjadi dan mengenai maksud kedatanganku.” Namun sebagian besar berkata, “Engkau adalah keponakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa engkau menyusahkan diri untuk datang kemari, mengapa engkau tidak memanggilku?” Jawabku, “Aku sedang menuntut ilmu, jadi akulah yang wajib mendatangimu.”

Dari kisah ini, setidaknya terdapat dua pesan moral yang dapat kita teladani bersama. Pertama, kesungguhan Abdullah bin Abbas dalam mencari ilmu. Meski harus menempuh jarak yang jauh untuk memperoleh ilmu, hal tersebut tidak menjadi masalah baginya. Rasa ingin tahunya yang tinggi dibuktikan dengan tekad yang tinggi untuk memperolehnya. Inilah karakter yang perlu kita teladani dari Abdullah bin Abbas. Sebab, terkadang kita ingin mencari tahu banyak hal tetapi tidak diimbangi dengan usaha yang tinggi untuk memperolehnya. Banyak keinginan dan sedikit usaha memang harus dihindari oleh seluruh kaum muslimin. Mungkin, kita harus menata dan menguatkan kembali niat kita dalam mencari ilmu. Melalui Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Ghazali mengingatkan kepada kita bahwa, “Jika kalian menuntut ilmu, hendaknya dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah. Selain itu, niat tersebut juga didasarkan karena kewajiban menuntut ilmu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya kepada setiap muslim.

Baca Juga :  Menjadi Dewasa (Be A Man)

Kedua, kesabaran dan kerendahatian Abdullah bin Abbas dalam belajar juga menjadi poin penting yang dapat diteladani. Kesabaran keponakan Rasulullah dalam menunggu di depan rumah gurunya yang sedang istirahat menjadi cerminan betapa pentingnya menjaga adab dalam mencari ilmu. Guru adalah orang yang harus dihormati, sebab melaluinya Allah menambahkan pengetahuan dan wawasan kita.

Rahmat Allah yang diberikan kepada kita melalui orang alim menjadikan kita harus sabar dalam memperoleh ilmu. Alasan tersebut juga yang mendasari Abdullah bin Abbas mendatangi gurunya untuk mendapatkan ilmu sekalipun beliau adalah keponakan Rasulullah yang notabene sangat dihormati dan dihargai. Namun status tersebut tidak menjadi alasan Abdullah bin Abbas untuk bermalas-malasan dalam menuntut ilmu. Sebab ia sadar bahwa kewajiban menuntut ilmu berlaku bagi siapa saja yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat.

Perjuangan Abdullah bin Abbas dapat menjadi refleksi bagi kita semua umat Nabi Muhammad. Sebab menuntut ilmu tak mengenal usia, selagi hayat masih dikandung badan, disaat itulah kita tetap mempunyai kewajiban menuntut ilmu. Dan dalam proses menuntut ilmu tersebut kita juga tidak boleh melupakan adab-adab yang harus dijaga. Karena keberkahan ilmu juga terletak dari adab yang kita tunjukkan dalam proses mendapatkannya. Semoga Allah selalu memudahkan langkah kita dalam mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Sehingga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ridho-Nya dan kemudahan dalam mencapai Surga-Nya kelak, Aamiin.

Baca Juga :  Janganlah Menjadi Guru Karbitan

Oleh: Aiman Bahalwan
*Mahasiswa Universitas Airlangga dan Menteri Agama BEM FISIP Unair

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.