Kebangkitan Peradaban: Rumus Malik Bennabi

127
Kebangkitan Peradaban Rumus Malik Bennabi 2

Suaramuslim.net – Tidak banyak aktifis pergerakan Islam yang mengenal Malik Bennabi (1905-1973). Penulis sendiri pun baru mendengar nama beliau setelah diperkenalkan oleh Syed Alwi Alatas, Ph.D dalam acara INSISTS Saturday Forum pada tanggal 10 Februari 2018. Tidak populernya beliau di kalangan aktifis pergerakan Islam patut disayangkan.

Bennabi adalah seorang pakar sejarah dan peradaban Islam pertama setelah Ibnu Khaldun yang secara serius dan sistematis membahas peradaban secara konferehensif. Perbedaan Bennabi dengan Ibnu Khaldun ialah, Ibnu Khaldun berbicara tentang bangkit dan runtuhnya suatu negara (state) sementara Bennabi berbicara tentang peradaban.

Menurut Malik Bennabi, pemikiran pada level peradaban perlu diketengahkan sebab masalah suatu bangsa sebenarnya bukan semata-mata masalah bangsa itu sendiri. Hiburan jalanan murahan (semacam topeng monyet) yang ditemui di Maroko juga ada di Samarkand. Masalah dunia Arab sama dengan masalah Jawa (Indonesia). Begitulah Bennabi memberi contoh. Artinya, masalah yang dihadapi umat Islam dalam suatu negera bukanlah semata-mata masalah mereka sendiri di dalam negara itu, melainkan masalah umat Islam secara umum pada level peradaban. Memikirkan jalan keluar masalah per bangsa, per negara, secara terpisah tidak akan benar-benar menyelesaikan persoalan umat Islam. Oleh sebab itu, pemecahan masalah umat harus sampai pada tingkat peradaban.

Baca Juga :  Perkembangan Islam di Papua

Pemikir kelahiran Aljazair ini membagi peradaban dalam tiga fase sejarah. Pertama, fase kelahiran (al-milad) atau kebangkitan (al-nahdah). Fase ini ditandai dengan munculnya kekuatan spiritual (al-ruh) sebagai pengendali utama masyarakat. Kekuatan ruh mengendalikan akal dan naluri. Pada awal peradaban Islam, kekuatan ruh ini sangat nyata terlihat antara lain pada Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu. Bilal rela menerima seberat-berat siksaan demi mempertahankan aqidah Islam. Keteguhan Bilal sangat tidak masuk akal dan tentu bukan karena naluri atau insting, melainkan disebabkan oleh kekuatan ruhani. Hal serupa juga berlaku bagi seluruh sahabat Nabi. Menurut Bennabi, fase pertama bermula sejak turunnya wahyu sampai meletusnya Perang Shiffin.

Fase kedua disebut Bennabi sebagai fase rasional. Pada fase ini kekuatan akal menjadi penggerak peradaban. Kekuatan akal sangat dominan. Fase ini ditandai dengan munculnya penemuan-penemuan spektakuler di bidang sains, teknologi, dan kebudayaan. Namun penting dicatat, fase ini juga menjadi awal dari fase ketiga, yaitu fase kemunduran atau kemerosotan. Sebabnya ialah, akal tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, naluri, insting, sebaik ruh. Pada fase ini, meskipun peradaban Islam maju dalam ilmu pengetahuan dan melahirkan capaian intelektual yang mengagumkan, naluri jahat yang tidak terkendali mulai nampak dengan munculnya kasus-kasus korupsi, perebutan kekuasaan, bahkan saling bunuh sesama umat Islam. Menurut Bennabi, fase ini dimulai sejak pemerintah Bani Umayyah hingga era Ibnu Khaldun.

Baca Juga :  Indonesia Bubar: Nasib atau Agenda ?

Fase ketiga adalah fase kemunduran atau kemerosotan. Pada fase ini naluri menjadi penggerak dominan peradaban. Ruh dan akal kalah. Umat Islam jatuh pada titik nadir terendahnya. Negeri-negeri kaum Muslimin dijajah, diperas, dan dihisap penjajah. Umat Islam tidak mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Lebih parah, umat Islam bahkan tidak mampu berpikir kecuali seperti cara penjajah berpikir. Era ini bermula setelah Ibnu Khaldun sampai sekarang.

Malik Bennabi tidak berhenti pada identifikasi masalah-masalah peradaban umat Islam. Ia juga memberikan rumus bangkit dari keterpurukan. Menurut Bennabi, hanya dengan menggelorakan kembali semangat beragama yang membuat umat terdahulu bangkit, umat Islam saat ini dapat masuk kembali ke gelanggang peradaban. Namun, pemikiran keagamaan bagaimana yang dapat membawa umat Islam kembali ke puncak peradabannya? Sesuai syarahan Syed Alwi Alatas, pemikiran keagamaan yang dimaksud Malik Bennabi harus memiliki ciri-ciri berikut:

Pertama, harus menyentuh, menggerakkan jiwa manusia, dan mempengaruhi kesadarannya. Poin pertama ini menuntut perubahan mendasar pada diri manusia sebagai bagian dari peradaban.

Baca Juga :  Puisi Sukma Potret Kegagalan Komunikasi

Kedua, harus mampu mengubah sepenuhnya manusia menjadi manusia spiritual. Kekuatan ruh harus mampu menundukkan naluri.

Ketiga, memiliki tujuan yang kuat, yaitu akhirat. Orientasi akhirat membuat hidup manusia lebih bermakna. Tujuan yang kuat ini penting sebab masyarakat tidak akan mampu menghadapi beratnya tantangan jika tidak tahu tujuan akhir dari sebuah perjuangan.

Keempat, mampu menggerakkan masyarakat membangun kebudayaan dan membentuk sejarah.

Kelima, pemikiran keagamaan ini menjamin tumbuhnya kebudayaan yang sehat. Maksudnya, masyarakat telah bergerak secara berkesinambungan menuju tujuan-tujuan luhur yang telah digariskan.

Jika kelima poin dilaksanakan, besar harapan umat Islam akan segera kembali ke puncak peradabannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Pertanyaannya kemudian ialah, apakah tradisi keagamaan kita hari ini telah memenuhi lima kriteria di atas? Semoga.

Oleh: Wahyudi Husain
*Guru di Pondok Pesantren at-Taqwa, Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here