Bersekolah Tapi Tak Terdidik

98
Inilah Arti Bersekolah Tapi Tak Terdidik, sekolah

Suaramuslim.net - Apa yang ada dibenak orangtua kita dahulu ketika mengirimkan anak-anaknya ke lembaga pendidikan bernama sekolah atau yang sejenisnya. Saya yakin orang tua kita berharap agar anak-anaknya kelak bisa menjadi manusia yang sukses dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri serta keluarga dan lingkungannya. Seringkali juga terdengar oleh kita, ungkapan-ungkapan di masyarakat "oh nggak pernah makan bangku sekolahan" ditujukan kepada siapapun yang dianggap melanggar tatanan dan norma yang berlaku.

Ada harapan yang begitu besar dari masyarakat kepada lembaga pendidikan bernama sekolah dan sejenisnya, bahwa siapapun yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga persekolahan maupun sejenisnya diharapkan mampu membawa perilaku yang baik dan sesuai dengan norma yang berlaku.

Seiring perkembangan zaman, sekolah dan pendidikanpun kemudian mengalami pergeseran. Sekolah tidak begitu lagi fokus pada konsep menyeluruh perubahan sikap, perilaku dan perubahan pikir, sebagaimana Bloom uraikan, namun sekolah hanya fokus pada perubahan fikir. Sekolah kita menjadi kehilangan "ruh" nya, karena esensi dari sekolah diharapkan bahwa anak didik tidak hanya cakap berpikir saja, tetapi juga cakap dalam berperilaku dan bersikap. Sekolah kita seolah menjadi industri yang mencetak "robot".

Protes terhadap lembaga persekolahanpun menyeruak, sebagaimana Ivan Illich sampaikan dengan gagasannya "De Schooling". Protes terhadap ketidakmampuan lembaga persekolahan menghasilkan lulusan yang kompeten dalam berperilaku dan bersikap. Lahirlah kemudian gagasan sekolah jangan hanya diartikan sebagai gedung dan ruang, sekolah harus dimaknai sebagai "space", dimanapun kita bisa belajar melangsungkan proses-proses pendidikan.

Baca Juga :  Penjara Itu Bernama Sekolah

Gagasan Ivan Illich sejatinya menginginkan pendidikan itu mengembalikan manusia kepada kodratnya sebagai mahluk sosial , mahluk yang bisa menyemai kebaikan dalam lingkungan tempat ia berada. Ada harapan melalui gagasan ini, manusia yang mengalami proses belajar di lembaga persekolahan atau sejenisnya mengalami proses kesadaran berubah ke arah yang lebih baik, yang saya sebut sebagai proses pendidikan.

Pendidikan kita era tahun 80-an sampai sekarang mengalami pergeseran orientasi, apalagi kemudian nilai kelulusan ditentukan oleh hasil yang didapatkan melalui ujian nasional, sehingga proses-proses yang dilalui selama kurun waktu berjalan menjadi tidak bermakna ketika nilai ujian tidak memenuhi standar kelulusan. Disorientasi inilah yang kemudian seringkali terjadi penyimpangan perilaku yang dilakukan oleh mereka yang sedang menjalani proses pendidikan, baik di sekolah maupun di luar lembaga persekolahan. Tragedi Sampang, terbunuhnya guru Budi oleh muridnya, pemukulan kepala sekolah SMPN di Selok Sulawesi Utara, serta tawuran pelajar ditambah lagi banyaknya deretan pejabat yang tertangkap KPK, semakin menambah buram catatan pendidikan kita. Belum lagi cara berperilaku sebagian kita di jalanan, saling kebut-kebutan, membahayakan pengguna jalan yang lain, budaya yang tak tertib, saling serobot, saling serapah di jalan, ketika terjadi ketersinggungan, ini juga merupakan deret buram pendidikan kita. Betapa menunjukkan bahwa tidak selalu mereka yang pernah mengalami sekolah, otomatis mereka kemudian menjadi terdidik.

Baca Juga :  Merenda Interaksi Sosial yang "I Am Ok, You Are Ok"

Apa yang Mesti Dilakukan?

Di tengah pergulatan zaman yang semakin cepat dan semakin terbuka, perubahan orientasi pendidikan harus segera dilakukan. Mengembalikan kebutuhan pendidikan pada kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang bisa bermanfaat bagi yang lainnya.

Pengembalian orientasi kemanfaatan akan memberi rasa tanggung jawab kepada siapapun yang merasa mendapatkan manfaat dalam menjalani proses-proses pendidikan yang pernah dijalani. Nah, ukurannya tidak lagi pada gelar apa yang saya dapatkan, tetapi apa yang bisa saya sumbangkan untuk negara dan masyarakat serta agama demi kebaikan dari gelar dan proses pendidikan yang saya alami. Pengembalian orientasi itu juga akan bermakna sebagai perwujudan dari kebutuhan aktualisasi kemanusiaan, sehingga aktualisasi itu akan menjadi sebuah penghormatan dan penghargaan terhadap kemanusiaan.

Dari Mana Memulainya?

Sebagaimana yang diperbincangkan saat ini dengan "The Heutagogy in Action", kebutuhan pendidikan lebih diarahkan pada kemampuan menyerap nilai-nilai melalui dengan apa yang disebut sebagai "Self Determined Learning", kesadaran nilai akan mampu diserap oleh mereka yang melakukan pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi pusat dalam belajar, yang ada adalah murid menjadi subyek dari sebuah proses belajar dengan menggunakan teknologi yang mampu mengirim sinyal pengetahuan dan peradaban yang ada. Sehingga dalam rangka membangun tanggung jawabnya selama berproses menjadi subyek belajar, guru wajib membuat "agreement" bersama murid dan orangtuanya kalau perlu, dalam menentukan apa yang boleh dan tidak, serta apa yang menjadi sebuah kesepakatan keberhasilan dalam belajar. Dengan kesepakatan itu diharapkan semua mempunyai tanggung jawab dan tidak saling menyalahkan.

Baca Juga :  Rasa Malu Hilang, Maksiat Akan Datang

"Respect and Responsibility" begitulah Lyckona menyebutnya. Di tengah arus peradaban yang saling bertabrakan seperti ini, maka membangun kesadaran menghormati dan mengapresiasi serta bertanggung jawab adalah sebuah keharusan. Oleh karenanya mendidik anak-anak yang diindikasikan sebagai generasi Z, generasi 4.0, maka menggunakan pendekatan memanusiakan mereka, dengan membiasakan mengajak mereka menyusun kebutuhan-kebutuhan yang ingin didapatkan dalam sebuah proses belajar di persekolahan akan mengajarkan kepada mereka sebuah sikap bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri dan akan menghormati apa yang menjadi pilihan orang lain. Pembiasaan kegiatan positif di sekolah bisa jadi merupakan langkah praktis memulai membangun sikap yang bertanggung jawab anak-anak kita. Semoga saja!

"Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka tidak akan pernah hidup di zamanmu" (Ali Bin Abi Thalib). (Surabaya, 19 Februari 2018)

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

SHARE
M. Isa Ansori
Pegiat pelestarian cagar budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here