Usaha Jilbab di Indonesia, Makin Menggeliat

Usaha Jilbab di Indonesia, Makin Menggeliat

Usaha Jilbab di Indonesia, Makin Menggeliat

Suaramuslim.net – Anda ingin berbisnis sekaligus syiar agama? Berdaganglah jilbab. Prospek ke depannya kian menggiurkan. Sambil mengunduh keuntungan, Anda juga menyiarkan kain penutup aurat bagi wanita ini.

Jilbab sudah dikenal sejak dulu. Di beberapa negara Islam, pakaian sejenis jilbab dikenal dalam banyak istilah, seperti chador di Iran, pardeh di India dan Pakistan, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, dan hijâb di beberapa negara Arab-Afrika seperti di Mesir, Sudan, dan Yaman. Terlepas dari istilah yang digunakan, sebenarnya konsep berjilbab memang milik semua agama.

Pada awal-awal abad Islam, sekitar abad 9-12M, jilbab dipahami sebagai sebatas perintah agama. Jilbab mengalami perkembangan fungsi dari perintah agama menjadi mode. Setelah Islam berkembang ke pelosok negeri, tak dapat dielakkan, akulturasi budaya berbagai bangsa turut mempengaruhi model jilbab, misalnya di sebagian negara Timur-Tengah berkembang model jilbab dengan cadar, burqa, niqab, dan masker. Di kawasan timur juga berkembang jilbab dengan motif hiasan tertentu sesuai dengan konteks lingkungannya, tidak hanya polos, tetapi bermotif.

Di Indonesia, khususnya, jilbab mengalami perkembangan sejak era 80-an. Kesadaran untuk mengenakan jilbab secara syar’i mulai muncul seiring banyaknya sarjana-sarjana muslim lulusan Timur-Tengah, yang gencar mensosialisasikan jilbab yang sesuai syariat. Perkembangan pesat mulai terjadi pada era 90-an. Jilbab sempat menjadi perhatian nasional di era 90-an karena kasus pelarangan pengenaan jilbab di dalam instansi-instansi pemerintah dan sekolah. Kasus ini bahkan mengundang simpati budayawan Emha Ainun Najib lewat sajaknya Lautan Jilbab, juga Taufiq Ismail menulis lirik lagu Aisyah Adinda Kita yang menggambarkan gadis berjilbab, dinyanyikan grup musik Bimbo.

Jilbab Sebagai Ladang Usaha dan Bisnis

Jilbab mengalami perkembangan pesat era 2000-an. Beragam mode, warna dan bentuk tampil di gerai-gerai dan butik busana muslim. Tak bisa dimungkiri, faktor publik figur seperti artis-artis nasional turut andil dalam memasyarakatkan jilbab sehingga menjadi tren seperti saat ini. Dari tren, jilbab pun berkembang menjadi identitas sosial. Mengenakan jilbab dengan merek tertentu, yang dirancang oleh desainer ternama seakan menjadi jaminan bagi seorang wanita untuk tidak disebut ketinggalan zaman.

Perkembangan ini adalah tantangan bagi para desainer, untuk menghasilkan jilbab dengan unsur seni tinggi tanpa meninggalkan kaidah syariat. Pun, menjadi sebuah ladang usaha dan bisnis yang digadang-gadang sebagai peluang usaha yang menguntungkan secara signifikan. Bagaimanapun, perkembangan ini harus dilihat dengan kaca mata positif, bahwa busana muslim mulai diterima masyarakat luas.

Alphiana Chandrajani, lulusan Diploma in Fashion the London College of Fashion London UK mengatakan, “Tren jilbab untuk beberapa tahun ke depan akan semakin meroket, semakin banyak model, semakin tampil lebih sopan dan anggun karena berkaca dari perintah agama.”

Sewaktu di London, wanita yang berprofesi sebagai desainer ini memakai jilbab ala kadarnya (turban). Barulah ia mulai berjilbab dengan menutup dada setelah ikut kajian-kajian Islam. “Saya rasa perlu adanya kajian dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya berjilbab sesuai syariat agama, agar bertambah pula keimanan dan pahala,” pungkasnya.

Kontributor: Khoirun Nisa
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment